Share

Gaya Hidup Buruk dan Merokok Berisiko Timbulkan Gangguan Kesuburan Pria

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 19 Mei 2023 00:21 WIB
$detail['images_title']
Mengalami gangguan kesuburan (Foto: Proactiva)

SAAT ini banyak pria yang malu untuk membicarakan kondisi kesehatan mereka terkait dengan organ reproduksi. Sebab hal itu masih tabu di masyarakat.

Padahal sangat penting bagi mereka untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Pria wajib memelihara kesehatan reproduksi mereka, dan tak boleh diabaikan.

merokok tidak sehat

Dokter Spesialis Urologi dan Konsultan Andro Urologi, Endo Urologi RS Siloam ASRI Prof. dr. Ponco Birowo, Sp.U (K), Ph.D mengatakan, masalah urologi pada pria adalah salah satu bidang medis yang berfokus pada masalah yang terjadi di sistem kemih dan reproduksi pria. Hal ini mencakup berbagai macam penyakit dan kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada organ-organ yang terlibat dalam sistem reproduksi pria.

Dalam urologi pada pria, ada berbagai macam kondisi dan penyakit yang dapat terjadi, di antaranya disfungsi ereksi atau erectile dysfunction (ED). "Nah, sangat penting guna mengenali gejala awal dan menghubungi dokter segera jika seseorang mengalami masalah kesehatan reproduksi pria. Pengobatan yang tepat dan teratur akan memastikan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang," ujarnya.

Menurut Jurnal Ilmiah Departemen Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang terbit pada tahun 2019, dari total 255 responden yang mengisi survei, 35,6% di antaranya mengalami disfungsi ereksi atau sebesar 92 responden. Oleh karena itu, penyakit disfungsi ereksi dan gangguan kesuburan pria tidak bisa dianggap remeh.

"Kebiasaan hidup tidak sehat, obesitas, hipertensi, dan kebiasaan merokok menjadi beberapa faktor yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami disfungsi ereksi," terang Prof Ponco.

Ada beberapa jenis disfungsi ereksi yang dapat diderita seseorang berdasarkan dengan penyebabnya. Berikut merupakan beberapa jenis disfungsi ereksi:

1. Disfungsi ereksi organik: Jenis ini terjadi karena penyakit sistemik atau cacat organik yang mempengaruhi fungsi ereksi penis. Beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi organik, seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan penyakit neurologis. Disfungsi ereksi akibat masalah hormon dan trauma atau cedera fisik juga termasuk dalam klasifikasi disfungsi ereksi organik.

2. Disfungsi ereksi psikogenik: Jenis disfungsi ereksi ini terjadi karena masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, atau trauma psikologis.

3. Disfungsi ereksi campuran: merupakan disfungsi ereksi yang disebabkan karena campuran dari masalah psikogenik dan organik.

Lalu bagaimana pengobatannya?

Pengobatan untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan secara bertahap. Perlu diperhatikan bahwa tata laksana disfungsi ereksi membutuhkan waktu dan tidak dapat diselesaikan secara instan.

Hal pertama yang harus dilakukan, seorang pasien disfungsi ereksi perlu dilakukan diagnosis terlebih dahulu untuk menentukan jenis dari penyakit disfungsi ereksi yang diderita. Selanjutnya, dari diagnosis tersebut, penyakit disfungsi ereksi dapat diberikan obat-obatan. Jika obat-obatan tidak dapat menyembuhkan, penanganan pasien dapat berlanjut ke tahap operasi.

 BACA JUGA:

Penting untuk mencari diagnosis dan pengobatan yang sesuai dengan jenis disfungsi ereksi yang dialami oleh pria. Hal ini dibutuhkan untuk meredakan gejala serta memulihkan fungsi ereksi secara maksimal.

 BACA JUGA:

Follow Berita Okezone di Google News

Apa saja gejala disfungsi ereksi?

Gejala yang dialami antara lain kesulitan untuk mempertahankan ereksi yang cukup keras dan tahan lama saat melakukan hubungan seksual, kesulitan untuk mencapai ereksi walaupun sudah dirangsang secara seksual, dan menurunnya gairah seksual.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyebutkan tanda dan gejala jika seseorang mengalami gangguan kesuburan pria adalah adanya gangguan pada kualitas dan jumlah sperma yang dihasilkan saat ejakulasi, penurunan gairah seksual yang memengaruhi kemampuan dalam menghasilkan sperma, ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi, dan munculnya rasa sakit atau ketidaknyamanan saat ejakulasi atau saat melakukan hubungan seksual.

“Masalah kesehatan fisik seperti faktor usia, diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, obesitas, penyakit pernapasan, dan penyakit kronis lainnya merupakan beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi timbulnya disfungsi ereksi dan masalah kesuburan pada seseorang,” ujar Prof. Ponco.

Selain kesehatan fisik, Prof. Ponco juga menjelaskan jika masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, stres, dan trauma emosional masa lalu seseorang dapat berpengaruh kepada disfungsi ereksi dan kesuburan pria.

Selain itu seseorang tersebut memiliki riwayat merokok, minum alkohol berlebihan, atau menggunakan obat terlarang juga merupakan faktor lain yang dapat memicu disfungsi ereksi dan gangguan pada kesuburan pria.

Disfungsi ereksi bukan penyakit komplikasi, tetapi dapat menjadi tanda dari adanya masalah kesehatan yang mendasar atau penyakit yang memengaruhi sistem vaskular atau saraf.

Namun, jika dibiarkan tanpa pengobatan, disfungsi ereksi bisa memburuk dan memengaruhi kehidupan seksual dan bisa memicu masalah psikologis seperti depresi atau kecemasan, dan juga memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan sehingga kesuburannya akan terganggu. Oleh karena itu, sangat penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami disfungsi ereksi.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.