Share

Orang Tua Waspada Campak pada Anak, Komplikasi Cukup Berat Lho!

Kevi Laras, Jurnalis · Selasa 24 Januari 2023 06:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi. (foto: Bestonlinemd)

PENYAKIT campak tengah disoroti berbagai pihak, lantaran dampaknya cukup berat bagi anak. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (kemenkes) dr. Prima Yosephine menjelaskan jika bisa membuat anak mengalami kebutaan bahkan kematian.

"Komplikasi campak ini umumnya berat, kalau campak mengenai anak yang gizinya jelek maka anak ini bisa langsung disertai komplikasi seperti diare berat, pneumonia, radang paru, radang otak, infeksi di selaput matanya sampai menimbulkan kebutaan, ini yang kita khawatirkan,” ujar dr. Yosephine dikutip dari Sehat Negeriku laman Kemenkes.

 penyakit campak

Kasus campak berdasarkan data Kemenkes di 2023 sudah ada empat Provinsi melaporkan adanya kasus suspek. Namun, jumlahnya tidak disebutkan karena masih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.

Sementara di tahun 2022 lebih dari 3.341 kasus campak dilaporkan. Hal ini dampak dari cakupan imunisasi turun secara signifikan, karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak anak tidak diimunisasi.

"Untuk kasus untuk 2023 kita agak bisa lebih mengendalikan dan menekan kasus dibandingkan Tahun 2022 lalu. Saat ini ada laporan kasus campak memang masih baru suspek karena belum diperiksa di lab kita harus confirm di labnya dulu, ini suspek sudah ada dari NTB, Sumatera Barat, Maluku Utara dan Papua," ungkap dr Prima.

Follow Berita Okezone di Google News

Ternyata campak bisa terjadi karena dipengaruhi oleh status gizi dan imunisasi, menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K).

Kondisi gizi buruk pada anak dan tidak imunisasi campak sangat berkolerasi. Sebab dampak dari kekurangan gizi, tidak bisa membentuk sistem kekebalan tubuh (antibodi) anak secara sempurna untuk melawan virus.

"Gabungan yang sempurna antara kurang gizi dengan tidak diimunisasi, jadi ketika asupan nutrisinya khusus protein hewani tidak cukup tentu saja, proses pembentukan sel imunitas atau antibodinya tidak cukup atau enggak kuat," terang Dr Piprim dalam Keterangan Pers Hari Gizi Nasional secara online.

1
2