Share

Berkaca pada Kasus Venna Melinda, Benarkah Perilaku KDRT Karena Trauma Masa Lalu?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 19 Januari 2023 11:17 WIB
$detail['images_title']
Kasus Venna Melinda. (foto: MPI/ Selvianus)

KASUS Venna Melinda diduga alami KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga oleh suaminya, Ferry Irawan, jadi konsumsi publik belakangan ini. Banyak orang prihatin dengan nasib Venna Melinda dan berharap keadilan ada untuknya.

Perilaku KDRT banyak dikaitkan dengan trauma masa lalu. Ada kepercayaan di masyarakat bahwa seseorang bisa melakukan KDRT ke pasangan atau anaknya sendiri karena menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas.

 Kasus Venna Melinda

Apakah memang begitu? Benarkah seseorang tega melakukan KDRT karena faktor traumatik di masa lalu yang belum selesai dan melampiaskan emosi itu ke pasangan atau anaknya sendiri?

Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan, menurut Zastrow & Browker (1984) dalam teori biologis, manusia, seperti juga hewan, memiliki suatu insting agresif yang sudah dibawa sejak lahir.

Pendapat lain datang dari Sigmund Freud, ia percaya bahwa manusia mempunyai suatu keinginan akan kematian yang mengarahkan manusia-manusia itu untuk menikmati tindakan melukai dan membunuh orang lain dan dirinya sendiri.

Sementara Robert Ardery mengatakan bahwa manusia memiliki insting untuk menaklukkan dan mengontrol wilayah yang sering mengarahkan pada perilaku konflik antar-pribadi yang penuh kekerasan.

"Beberapa ahli teori biologis berhipotesis bahwa hormon seks pria menyebabkan perilaku yang lebih agresif," kata Meity saat dihubungi MNC Portal, Kamis (19/1/2023).

Follow Berita Okezone di Google News

Kemudian, lanjut Mei, teori frustasi-agresi Zastrow & Browker juga menyatakan bahwa kekerasan sebagai suatu cara untuk mengurangi ketegangan yang dihasilkan situasi frustasi.

Teori ini berasal dari suatu pendapat yang masuk akal bahwa seseorang yang frustasi sering menjadi terlibat dalam tindakan agresif. Orang frustasi sering menyerang sumber frustasinya atau memindahkan frustasinya ke orang lain.

 KDRT

"Contohnya seperti yang dilakukan Ferry, seandainya betul ia melakukan KDRT kepada Venna Melinda dan dari beberapa cerita bahwa di pengalaman rumah tangga sebelumnya sosok pria itu juga melakukan hal yg sama, artinya ia masuk kategori ini," papar Mei.

"Artinya, Ferry bisa jadi frustasi, entah karena apa, bisa cemburu, merasa gak berdaya, atau ingin menunjukkan kekuasaannya, sehingga ia melampiaskan rasa frustasinya dengan kemarahan atau agresif," jelasnya.

Namun, secara umum tindakan KDRT acap kali terjadi berhubungan dengan banyak hal. Psikolog Mei merangkumnya sebagai berikut:

1. Karakteristik kepribadian seseorang

2. Sifat agresif

3. Pemahaman agama yang salah

4. Kurang komunikasi

5. Ketidakharmonisan di dalam rumah tangga

6. Alasan ekonomi

7. Kontrol diri yang rendah atau ketidakmampuan mengendalikan emosi

8. Ketidakmampuan mencari solusi masalah rumah tangga

9. Trauma

10. Relasi kuasa merupakan relasi yang bersifat hierarkis

11. Ketidaksetaraan atau ketergantungan status sosial, budaya, pengetahuan dan/atau ekonomi yang menimbulkan kekuasaan satu pihak terhadap pihak lainnya dalam konteks relasi antar-gender, sehingga merugikan pihak yang memiliki posisi lebih rendah

12. Suami atau istri yang merasa berkuasa, menyebabkan kurangnya rasa menghargai dan bersikap semena-mena terhadap pasangannya

13. Kondisi mabuk karena minuman keras dan narkoba.

1
3