Share

Punya Testis Lebih dari Dua, Bahaya Gak Sih?

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Kamis 12 Januari 2023 18:31 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Testis Pada Pria. (Foto: Shutterstock)

TESTIS merupakan organ vital dalam sistem reproduksi pria yang memproduksi sperma. Setiap menit, testis mampu memproduksi kurang lebih 200.000 sperma.

Normalnya, setiap pria memiliki dua testis. Akan tetapi, dalam beberapa kasus yang jarang, pria bisa memiliki lebih dari dua testis. Kondisi ketika testis berjumlah lebih dari dua yang disebut polyorchidism.

Polyorchidism merupakan kondisi yang sangat langka. Dalam sebagian besar kasus polyorchidism, pria bisa memiliki tiga testis. Akan tetapi, beberapa pria melaporkan memiliki empat atau lebih testis.

Seperti dilansir dari KlikDokter, menurut dr. Devia Irine Putri, kondisi ini biasanya merupakan kelainan genetik dan sangat jarang terjadi. Testis tambahan biasanya terletak di dalam skrotum. Namun, dalam beberapa kasus, mungkin letaknya lebih tinggi di daerah inguinal atau selangkangan, lebih dekat ke dinding perut bagian bawah, atau secara keseluruhan berada di dalam perut.

Polyorchidism sering kali tidak memiliki gejala lainnya selain kelebihan testis. Namun bila muncul, gejalanya dapat berupa nyeri di skrotum atau perut bagian bawah. Biasanya, testis yang berlebih berada di sisi kiri. Testis tambahan tersebut umumnya tidak sebesar dua testis yang normal, sehingga cenderung tidak terdeteksi dalam waktu yang lama.

Testis pada Pria

Polyorchidism memiliki dua jenis, yakni:

Tipe A

Testis yang berlebih dikeringkan oleh ductus deferens yang mengangkut sperma ke saluran ejakulasi. Testis ini memiliki potensi dalam hal reproduksi. Mayoritas kasus polyorchidism yang ditemukan pun adalah tipe A.

Tipe B

Testis tambahan tidak dikeringkan oleh ductus deferens. Oleh karena itu, tidak berfungsi untuk reproduksi.

Mungkin bagi mereka yang punya masalah polyorchidism, salah satu yang ditakuti adalah ada atau tidaknya dampak pada kesuburan. Akan tetapi, menurut dr. Devia kondisi tersebut tidak memengaruhi.

"Secara umum tidak berbahaya, tidak menyebabkan masalah kesuburan, dan biasanya tidak menimbulkan gejala juga. Kondisi ini biasanya tidak sengaja ditemukan saat medical check-up," ungkap dr. Devia.

Follow Berita Okezone di Google News

Anda mungkin bertanya-tanya, perlukah dioperasi kalau mengalami kondisi ini? Jawabannya, bisa ya dan bisa juga tidak. Kondisi polyorchidism bisa dioperasi kalau sampai mengganggu. Akan tetapi, kalau tidak ada keluhan, tidak perlu dioperasi.

"Bisa dioperasi apabila menyebabkan keluhan yang mengganggu, misalnya terjadi infeksi, dicurigai sebagai suatu keganasan, atau bahkan mengganggu kesuburan," ujar dr. Devia.

Polyorchidism memerlukan pemeriksaan oleh dokter untuk memastikannya. Meski tidak mengarah kepada hal-hal berbahaya tadi, kondisi tersebut tetap harus dipantau. Langkah pemantauan yang dilakukan akan mencakup pelacakan gejala baru, serta pemeriksaan MRI atau ultrasound atas rekomendasi dokter.

Pasalnya, ada beberapa perdebatan mengenai apakah jumlah testis yang berlebihan harus diangkat karena meningkatkan risiko kanker. Jika ada kecurigaan terdapat kanker melalui biopsi testis atau tes pencitraan, maka orchiopexy (pengangkatan testis tambahan) mungkin disarankan.

Selain itu, beberapa dokter menyarankan pengangkatan testis yang dekat perut karena memiliki risiko tertinggi menjadi kanker. Bila Anda curiga mengalami polyorchidism, jangan membuat asumsi atau diagnosis sendiri. Sebaiknya segera periksa ke dokter untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami benar-benar polyorchidism atau bukan.

1
2