Share

Apa Perbedaan Gagal Jantung dan Gagal Jantung Kongestif? Cek Penjelasannya di Sini

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Jum'at 06 Januari 2023 20:00 WIB
$detail['images_title']
Apa Perbedaan Gagal Jantung dan Gagal Jantung Kongestif, (Foto: Freepik)

Apa Perbedaan Gagal Jantung dan Gagal Jantung Kongestif, akan dibahas singkat dalam artikel ini. Mengingat penyakit jantung masih jadi salah satu pekerjaan rumah terbesar untuk masalah kesehatan masyarakat Indonesia.

Membahas gagal jantung dan gagal jantung kongestif, mungkin masih banyak orang awam yang menganggap gagal jantung dan gagal jantung kongestif merupakan kondisi kesehatan yang berbeda.

Padahal, tahukah Anda, secara medis ternyata gagal jantung merupakan istilah umum untuk menyebut gagal jantung kongestif, yakni kondisi saat otot jantung menjadi lemah. Otot jantung yang menjadi lemah ini, akhirnya mengakibatkan jantung tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh.

Ya, dalam dunia medis, gagal jantung atau gagal jantung kongestif adalah kondisi saat jantung tidak lagi mampu memompa darah memenuhi kuota darah normal yang dibutuhkan tubuh bisa bekerja secara normal.

Gagal jantung atau gagal jantung kongestif adalah salah satu kondisi dari penyakit jantung yang tak begitu familiar di masyarakat umum. Masih banyak orang yang kerap menyalahartikan gagal jantung atau gagal jantung kongestif dengan serangan jantung, yaitu ketika jantung mendadak berhenti berdetak. Padahal, meskipun keduanya sama-sama berbahaya, namun memiliki gejala yang cukup berbeda.

Follow Berita Okezone di Google News

Serangan jantung terjadi secara mendadak, terasa menyakitkan, dan bisa berujung fatal. Sedangkan gagal jantung kongestif, sifatnya lebih ke berkembang perlahan dan bisa keliru dipahami alias kerap disalahartikan sebagai gejala penuaan biasa.

(Apa Perbedaan Gagal Jantung dan Gagal Jantung Kongestif, Foto: Freepik)

Dilihat dari aspek penyebab, terjadinya gagal jantung kongestif yakni karena masalah otot jantung yang dipicu oleh beragam faktor, meliputi;

• Penyakit arteri koroner: Aliran darah yang mengandung oksigen ke jantung tersumbat karena tumpukan plak dalam pembuluh darah arteri, pengerasan arteri, atau lapisan dalam arteri robek.

• Serangan jantung: Saat arteri koroner tiba-tiba tersumbat dan darah tak bisa mengalir ke jantung sepenuhnya. Akibatnya, otot jantung menjadi rusak permanen dan sel otot bisa mati, sementara sel otot yang masih normal terpaksa bekerja lebih keras.

• Kardiomiopati: Penyakit ini mengacu pada kerusakan dan pembengkakan otot jantung yang tidak dipicu masalah aliran darah atau arteri koroner.

• Penyakit jantung bawaan: Kelainan jantung yang terjadi dalam masa kehamilan karena masalah perkembangan janin.

• Diabetes: Tingginya kadar gula darah.

• Hipertensi: Tekanan darah tinggi.

• Obesitas: Kelebihan berat badan.

• Aritmia: Kelainan irama jantung.

Gagal jantung atau gagal jantung kongestif terjadi saat otot jantung tak dapat memompa darah dengan cukup kuat ke seluruh tubuh. Masalah kesehatan ini dulu mendapat julukan silent killer, atau pembunuh senyap karena umumnya hadir tanpa disertai gejala dalam jangka waktu lama. Imbasnya? Membuat para pengidapnya kebanyakan tak sadar lalu hingga akhirnya membuat pasien meninggal dunia.

Meski demikian, ada setidaknya tiga tingkatan gejala yang bisa muncul menurut keparahannya. Pertama, sebagai tahap awal pasien mengalami gejala kaki membengkak, mudah merasa lelah terutama setelah melakukan kegiatan fisik, berat badan meningkat secara signifikan, sering ingin buang air kecil terutama saat malam hari

(Apa Perbedaan Gagal Jantung dan Gagal Jantung Kongestif, Foto: Freepik)

Pada tahap menengah seseorang yang mengalami gagal jantung akan mengalami gejala detak jantung tak beraturan, batuk-batuk akibat pembengkakan paru-paru, napas tersengal-sengal, napas pendek karena paru-paru terisi cairan, dan susah menggerakkan badan karena kelelahan.

Sementara, jika sudah di tahap lanjut, gejalanya bisa berupa rasa nyeri di dada yang bisa jadi ini mengindikasikan serangan jantung, kulit membiru, tanda paru-paru kekurangan oksigen, napas cepat dan pendek, hingga pingsan.

Namun, para peneliti telah menemukan kesimpulan bahwa gagal jantung kongestif tidak berarti vonis mati bagi pasien. Banyak orang yang menderita gagal jantung ringan hingga sedang, tetap bisa hidup lama dan normal dengan bantuan obat-obatan dan perawatan. Demikian sebagaimana dihimpun dari laman resmi Rumah Sakit Primaya Hospital dan Halodoc, Jumat (6/1/2023).

1
3