Share

Lord Rangga Disebut Sempat Kecapekan Sebelum Meninggal, Ada Hubungannya dengan Kematian?

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 07 Desember 2022 16:35 WIB
$detail['images_title']
Lord Rangga, (Foto: Dok/Okezone)

LORD Rangga, mantan pemimpin Sunda Empire meninggal dunia pada Rabu 7 Desember 2022 sekitar pukul 05:30 WIB.

Pria asli bernama Edi Raharjo itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Islam Mutiara Bunda Tanjung, Brebes, Jawa Tengah. Diungkap Manager Umum Rumah Sakit Islam Mutiara Bunda Tanjung-Brebes, Supayanto, Lord Rangga dikabarkan dirawat di rumah sakit karena dirinya mengalami kelelahan.

"Kalau informasi awal sih karena kecapekan. Tapi nanti saya kasih informasi lebih lanjut, yang jelas, almarhum dibawa ke rumah sakit tadi malam," ujarnya.

Secara medis, jika merujuk pada studi penelitian, disebutkan memang kelelahan sedikit banyak punya keterkaitan dengan kematian. Studi ini dilakukan lebih dari 10 tahun yang lalu oleh Dr. Nancy W. Glynn, profesor di Departemen Epidemiologi di Sekolah Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Pittsburgh bersama peneliti lainnya.

Mengutip Medical News Today, Rabu (7/12/2022) dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Gerontology: Seri A, tersebut menemukan bahwa orang dewasa yang merasa sangat lelah atau dengan kata lain kelelahan ekstrim saat melakukan banyak aktivitas, lebih berpeluang meninggal dalam 3 tahun ke depan.

Follow Berita Okezone di Google News

Studi penelitian sendiri, disebutkan lebih lanjut mengamati sekitar 3.000 orang peserta, mulai dari usia 60 hingga 108 tahun, yang berpartisipasi dalam Long Life Family Study. Studi internasional ini mengikuti anggota keluarga dari dua generasi dengan usia rata-rata peserta yang terlibat adalah 73,5 tahun, dengan demografi ebih dari separuh peserta adalah wanita dan 99,5 persen berkulit putih.

Peserta melaporkan rasa kelelahan yang dialami setelah melakukan aktivitas tertentu, dimulai dari skala 0 (tidak ada kelelahan) hingga 5 (kelelahan ekstrim). Kuesioner dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kelelahan fisik yang dirasakan lebih besar.

Dari pengumpulan data selesai pada akhir tahun 2019 tersebut, tim peneliti kemudian memperhitungkan faktor-faktor yang mungkin memengaruhi kematian, termasuk depresi dan kondisi yang sudah ada sebelumnya.

Orang berusia dewasa lebih tua yang memiliki skor tertinggi pada Pittsburgh Fatigability Scale (PFS), dikatakan dua kali lebih mungkin meninggal dalam 2,7 tahun berikutnya dibandingkan dengan kelompok orang yang mendapat skor lebih rendah.

 BACA JUGA:Hamil Anak Perempuan, Tasya Kamila Ngidam Makanan Manis hingga Gampang Capek

BACA JUGA:Seksolog: Malam Pertama Gak Usah Aneh-Aneh, Kalau Mau Pakai Sex Toy yang Aman

1
2