Share

Mengenal Pseudobulbar Affect yang Sering Disalahartikan sebagai Bipolar

Kevi Laras, Jurnalis · Selasa 06 Desember 2022 20:00 WIB
$detail['images_title']
Mengenal Pseudobulbar Affect, (Foto: Freepik)

Mengenal Pseudobulbar Affect akan jadi pembahasan dalam artikel ini, karena masyarakat kebanyakan masih awam dengan kondisi kesehatan satu ini.

Pseudobulbar Affect (PBA) sendiri adalah sebutan untuk orang yang sering tertawa atau menangis tanpa terkontrol. Namun dalam kasusnya, pseudobulbar affect ini lebih sering tidak terdiagnosis karena kurangnya kesadaran tentang kondisi ini atau kerap disalahartikan sebagai gangguan mood, seperti depresi atau pun bipolar.

"Anda bisa merasa sedih tetapi mulai tertawa padahal seharusnya tidak, mungkin banyak menangis atau tertawa. Beberapa orang mengatakan gejala datang begitu cepat seperti kejang," dikutip dari Web MD, Selasa (6/12/2022).

Pengidapnya sendiri, bisa mengalami emosi secara normal, tapi terkadang mengungkapkannya dengan cara berlebihan atau tidak pantas. Namun, setelah didiagnosis, pengaruh pseudobulbar bisa dikelola dengan obat-obatan.

Gejala yang bisa dialami pun beragam, sebab penderinya memiliki mood atau perilaku yang bisa berubah-ubah. Mulai dari tangisan atau tawa yang tiba-tiba dan intens yang tidak terkendali, menangis atau tertawa yang sepertinya tidak sesuai dengan situasinya, ledakan frustrasi dan kemarahan dan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan emosi.

(Mengenal Pseudobulbar Affect, Foto: Freepik)

Tak heran, orang yang mengalaminya bisa menjadi malu, terisolasi secara sosial, kecemasan serta depresi hingga mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja dan melakukan tugas sehari-hari.

Follow Berita Okezone di Google News

Lantas apa yang bisa menyebabkan PBA dialami pada seseorang? Ternyata, berbagai faktor bisa jadi pemicunya. Melansir Mayo Clinic bahwa penyebab dari Pseudobulbar Affect (PBA), terjadi pada orang dengan kondisi atau cedera neurologis, seperti stroke, Sklerosis lateral amiotrofik (ALS), Sklerosis ganda (MS), mengalami cedera otak traumatis, mengidap penyakit Alzheimer dan mengidap penyakit Parkinson.

(Mengenal Pseudobulbar Affect, Foto: Freepik)

Sehingga disarankan, jika seseorang memiliki riwayat atau sakit neurologis sebaiknya memeriksakan diri ke dokter atau spesialis yang membantu termasuk neuropsikolog, ahli saraf, dan psikiater.

Dalam perawatannya, umumnya dokter kemungkinan akan meresepkan obat antidepresan untuk mengendalikan gejala pengaruh pseudobulbar ini. Pada tahun 2010, FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika) menyetujui dextromethorphan atau quinidine ( Nuedexta ), sebagai obat pertama untuk PBA.

Studi menunjukkan bahwa obat ini bisa membantu, mengendalikan gejolak atau meledaknya tangisan dan tawa pada orang dengan Multiple Sclerosis (MS) dan Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

 BACA JUGA:Gejala dan Penyebab Gagal Ginjal Kronis, Berat Badan Turun Hingga Sesak Napas

BACA JUGA:Apa Benar Penyakit Kronis Itu Turunan?

1
2