Share

Ada Gerakan Gaungkan Kampanye 10 Jari untuk Kanker Ovarium, Apa Itu?

Kevi Laras, Jurnalis · Sabtu 03 Desember 2022 17:05 WIB
$detail['images_title']
waspada penyakit kanker, (Foto: Freepik)

PENYAKIT kanker masih terus menjadi momok menakutkan untuk masyarakat. Mengingat, salah satu penyakit tak menular (PTM) ini punya dampak fatal, alias bisa mengakibatkan kematian. Termasuk salah satunya kanker ovarium.

Bukan hanya membahayakan jiwa, dari catatan data Riskesdas tahun 2018, prevalensi kasus kanker ovarium ini mengalami kenaikan hingga akhirnya bertengger di peringkat 3 yang membuat Indonesia jadi mempunyai peningkatan beban akibat penyakit tidak menular (PTM).

“Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi PTM mengalami kenaikan, jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain pada kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus dan hipertensi,” jelas Dr. Eva Susanti, S.Kp.,M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan dalam keterangan diterima MNC Portal, Sabtu (3/12/2022)

“Kanker naik dari 1,4 persen pada Riskesdas 2013 menjadi 1,8 persen di data Riskesdas 2018. Sementara kanker ovarium berada di peringkat 3 dari sisi insiden dan tingkat kematian," sambungnya lagi.

Namun sayangnya, minimnya pengetahuan dan kesadaran, membuka peluang besar untuk banyak wanita untuk mengalami kanker yang satu ini. Maka dari itu, Kementerian Kesehatan RI diketahui tengah menggenjot edukasi tentang kanker ovarium yang diwujudkan dengan Program Kampanye 10 Jari. Apa itu?

Menggandeng Cancer Information & Support Center dan AstraZeneca, Kemenkes sedang menggaungkan Kampanye 10 Jari untuk mengenal faktor risiko dan deteksi dini kanker ovarium, penggunaan Angka “10” yang tercantum dalam “Kampanye 10 Jari” jadi salah satu cara mengedukasi masyarakat, tentang enam faktor risiko dan empat tanda kanker ovarium.

Follow Berita Okezone di Google News

Enam faktor risiko kanker ovarium meliputi mulai dari mempunyai riwayat kista endometrium, memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan/atau kanker payudara, terjadinya mutasi genetik (misalnya BRCA), faktor paritas rendah, menjalani gaya hidup yang buruk, dan yang terakhir yakni pertambahan usia.

Sedangkan empat tanda kanker ovarium sendiri, mulai dari mengalami perut kembung, berkurangnya nafsu makan berkurang, sering buang air kecil, dan ada rasa nyeri panggul atau perut.

Mengingat gejala atau tanda-tanda dari kanker ovarium beragam, dan sulit ditebak secara pasti. Dokter spesialis Onkologi, dr. Oni Khonsa, Sp.OG, Subsp. Onk mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan sadar akan pentingnya melakukan pemeriksaan sejak dini.

"Jadi tanda -tandanya itu complicated ya karena bisa ngilu banget (di perut), jadi waspada,” tandas dr. Oni singkat saat gelaran Kampanye 10 Jari I Wish I Knew : What Doctor, Patient, Survivors and Caregivers Want You To Know, Sabtu (3/12/2022).

 BACA JUGA:Keempat Terbanyak di Indonesia, Kenapa Kasus Kanker Kolorektal Tinggi?

BACA JUGA:Parah, 70% Kanker Payudara Ditemukan Pada Stadium Lanjut

1
2