Share

Bentuk Tampilan Virus Zombie di Rusia yang Berpotensi Jadi Bahaya Kesehatan

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 03 Desember 2022 11:56 WIB
$detail['images_title']
Permafrost-tanah beku, (Foto: Twitter/India Times)

BARU-baru ini masyarakat dunia, termasuk di Indonesia dihebohkan dengan penemuan virus zombie yang ditemukan oleh sekelompok ilmuwan Perancis.

Para ilmuwan Perancis tersebut disebutkan telah menghidupkan kembali 'virus zombie' yang sudah berusia 48.500 tahun terkubur di bawah danau beku di Rusia. Dari laporan New York Post, virus zombie ini ditemukan setelah sebagian besar permafrost (tanah beku permanen) yang menutupi seperempat belahan bumi bagian utara mencair karena pemanasan global.

Dalam studi yang dipublikasikan oleh bioRxiv mengungkapkan bahwa salah satu virus ini, Pandoravirus yedoma, menjadi virus yang tertua di antara virus lainnya juga berumur puluhan ribu tahun.

Para peneliti menyebutkan, bagian dari bahan organik ini juga terdiri dari mikroba seluler yang dihidupkan kembali (prokariota, eukariota uniseluler) serta virus yang tetap tidak aktif sejak zaman prasejarah.

Mengutip India Times, Sabtu (3/12/2022) Pandoravirus yedoma yang berusia 48.500 tahun tersebut, kembali ke bentuk yang bisa menginfeksi makhluk lain. Menurut Science Alert, strain baru adalah salah satu dari 13 virus yang dijelaskan dalam penelitian ini, masing-masing dengan genomnya sendiri.

Follow Berita Okezone di Google News

Dari foto tampilan virus yang dipublikasikan, terlihat strain virus yang ditemukan ini memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk oval tunggal, ada yang memanjang seperti kapsul, dan ada pula strain virus yang dikelilingi partikel-partikel kecil di sekitarnya.

(Foto: Twitter-India Times)

Para ilmuwan menilai bahwa semua "virus zombie" ini berpotensi menular dan bisa menimbulkan bahaya kesehatan. Maka dari itu, para peneliti menyakini  ke depannya pandemi seperti Covid-19 akan menjadi lebih umum di masa depan karena permafrost (tanah beku) yang mencair melepaskan virus yang sudah lama tidak aktif seperti mikroba, sebagaimana dilapor New York Post.

Dikatakan lebih lanjut, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menilai tingkat penularan virus yang tidak diketahui ini saat terpapar cahaya, panas, oksigen, dan variabel lingkungan luar lainnya.

1
2