Share

Apa Benar Obat ARV Bisa Sembuhkan Pengidap HIV Secara Total?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 02 Desember 2022 13:26 WIB
$detail['images_title']
HIV harus diobati (Foto: Medline plus)

INDONESIA sudah memiliki obat untuk merawat penderita HIV. Obat ini bernama terapi Anti Retroviral (ARV). Obat ini diklaim Kementerian Kesehatan dapat memberikan peluang, bagi orang terinfeksi virus HIV untuk tetap bisa memiliki umur yang panjang, sehat dan produktif.

Meski begitu, menurut Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS (PDPAI) dr Evy Yunihastuti, SpPD, obat ARV tidak mampu menyembuhkan HIV secara total. Walaupun cukup mampu menekan jumlah virus human immunodeficiency (HIV) di dalam tubuh.

 obat

"Nggak bisa dibilang sembuh total karena obat yang ada itu bisa menekan virus dalam tubuh. Tidak bisa menembus lokasi virus di sumsum tulang," jelas dr Evy dalam Media Briefing secara online, beberapa waktu lalu.

Obat ARV telah hadir sejak tahun 2004, seluruh penderita HIV pun bisa mendapatkannya. Menurut dr Evy, terapi ARV secara teratur sangat penting bagi orang dengan HIV positif, karena bisa menekan jumlah virus HIV di tubuh dan sekaligus menjaga kekebalan tubuh.

 BACA JUGA:Tekan Laju Kasus pada Anak-anak, Calon Pengantin Diimbau Tes Skrining HIV

Obat ini sudah menjadi program pemerintah dalam mengobati mereka yang mengidap HIV. "Soal obat AIDS sebenarnya sudah ada, kita gunakan bertahun-tahun dan masuk program pemerintah. Obat ini pun ada sejak 2004, sudah kita amati minum obat teratur sekarang masih terus berjalan," jelas dr Evy.

Follow Berita Okezone di Google News

Perlu diketahui, hari Kamis (1/12/2022) kemarin merupakan Hari AIDS Sedunia (HAS). Peringatannya dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat akan pentingnya pencegahan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam pengendalian HIV/AIDS.

Melansir Sehat Negeriku laman Kemenkes, kali ini peringatan HAS, tema Global peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2022 yaitu “Equalize”. Tema ini dipilih,mengingat pentingnya mengakhiri ketidaksetaraan yang mendorong terjadinya AIDS di seluruh dunia, khususnya pada perempuan, anak, dan remaja.

1
2