Share

Waspadalah! Orang Usia 19-36 Tahun Paling Rentan Alami Depresi

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 02 Desember 2022 16:21 WIB
$detail['images_title']
Mengalami depresi (Foto: Science news for student)

MENURUT survei yang dilakukan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mencatat kenaikan gangguan jiwa selama Pandemi Covid-19. Tercatat gangguan jiwa meningkat dari tahun 2020 sekitar 70% menjadi 80% pada 2022.

Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp. KJ. MARS, Ketua Umum PDSKJI mengungkap, dari hasil tes yang dilakukan, usia produktif paling banyak mengalaminya. "Dimulai usia 19-36 tahun paling banyak mengalami gangguan jiwa seperti kecemasan dan depresi."

 depresi

"Jadi pada tes yang dilakukan PDSKJI melalui website memberikan gambaran meningkatnya gangguan jiwa. Khususnya depresi, kecemasan dan kondisi terkait trauma psikologis, dan dari hasil tersebut sudah kami buat laporannya," kata Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp. KJ. MARS.

Alasan usia produktif lebih banyak mengalami gangguan jiwa, sebab adanya batasan atau berhenti segala aktivitas. Yang rutin dilakukan, seperti kontak dengan orang lain pun dibatasi bisa memicu rasa cemas, dan lainnya.

"Usia paling banyak yaitu usia produktif yang usia antara 19-36 tahun. Karena terputus sekali segala sesuatunya yang biasa dilakukan secara rutin kan," jelasnya.

"Di mana harus di rumah, dan kontak dengan orang jadi terbatas itu salah satu pencetus sebabkan orang terganggu kesehatan mental," tambah Dr Diah.

 BACA JUGA:Teman Curhat Depresi dan Ingin Bunuh Diri, Ini 5 Cara Mencegahnya!

Sehubungan dengan itu, Diah mengatakan hasil tes yang dilakukan melalui website telah dilaporkan ke kementerian kesehatan. Selain itu, mereka juga melakukan tindakan lanjut dalam mengembangkan layanan kesehatan di tingkat primer yaitu Puskesmas.

Follow Berita Okezone di Google News

Para dokter yang menangani juga sudah melakukan berbagai kegiatan pelatihan. Guna siap menangani pasien yang akan berkonsultasi terkait kesehatan jiwa.

"Jadi pada tes yang dilakukan PDSKJI melalui website memberikan gambaran meningkatnya gangguan jiwa, khususnya depresi, kecemasan dan kondisi terkait trauma psikologis dan dari hasil tersebut sudah kami buat laporannya," ucap Dr Diah.

"Tindakan lanjut bagaimana mengembangkan layanan untuk melakukan deteksi, dan intervensi bukan saja dilayanan rumah sakit tapi juga dilayanan primer seperti puskesmas. Juga melakukan pelatihan untuk para dokter supaya tidak terjadi hal-hal buruk lagi terkait masalah kesehatan jiwanya," katanya.

1
2