Share

Studi: Stres karena Pandemi Covid-19 Bikin Otak Remaja Alami Penuaan Dini

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 03 Desember 2022 09:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 yang belum juga usai, nyatanya juga begitu berdampak pada kesehatan otak anak-anak usia remaja.

Hal ini terungkap menurut suatu studi baru yang diterbitkan dalam "Biological Psychiatry: Global Open Science. Studi ini menyebutkan otak anak-anak remaja mengalami penuaan dini, alias penuaan sebelum waktunya karena adanya tekanan stres lockdown pandemi Covid-19, mengutip NY Post, Sabtu (3/12/2022).

Studi digelar dengan mencoba membandingkan pemindaian otak remaja dari sebelum masa pandemi Covid-19 dan pada akhir tahun pertama. Hasilnya, terlihat bahwa otak anak-anak remaja ini bertambah tua hingga tiga tahun hanya dalam waktu sekitar 10 bulan.

Disebutkan lebih lanjut, dari laporan Washington Post, penelitian ini awalnya dimulai delapan tahun lalu sebagai studi longitudinal terhadap 128 orang anak antara usia 9 dan 13 tahun. Tujuannya, untuk bisa melihat tingkat depresi di kalangan remaja dan jika ada perbedaan gender.

Namun pandemi Covid-19 yang datang menghantam, membuat penelitian setelah pemindaian ketiga peserta terhenti. Setiap pemindaian awalnya dimaksudkan untuk diambil dua tahun terpisah untuk mengukur perubahan pada anak-anak.

Follow Berita Okezone di Google News

Para ilmuwan yang mengerjakan penelitian ini, akhirnya memutuskan untuk mengubah tujuan studi untuk mengamati bagaimana pandemi bisa memengaruhi struktur fisik otak remaja serta kesehatan mentalnya.

Peneliti kemduian memasangkan peserta dengan usia dan jenis kelamin yang sama dan mengurutkannya ke dalam subkelompok - pubertas, status sosial ekonomi, dan jenis stres masa kanak-kanak - untuk menilai perubahan di otak anak-anak tersebut dengan benar.

“Cara itu memungkinkan kami untuk membandingkan anak usia 16 tahun sebelum pandemi, dengan anak usia 16 tahun lainnya yang dinilai setelah pandemi,” jelas Ian Gotlib, penulis utama studi dan profesor psikologi di Stanford University.

 BACA JUGA:Studi: Duh! Kecanduan Ponsel Bisa Turunkan Kreativitas Otak

BACA JUGA:Studi: Peningkatan Suhu Bumi Bikin Migrain Makin Memburuk

Melalui perbandingan ini, para peneliti mendapati kalau remaja yang mengalami pandemi mempunyai tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi. Masih dari studi yang sama, para peneliti juga menemukan adanya pertumbuhan di daerah otak hippocampus dan amigdala partisipan, yang masing-masing berperan untul mengatur memori dan membantu memproses emosi seperti rasa takut dan stres.

Prof. Ian menjelaskan, pada akhirnya hasil studi penelitian ini menjadi pengingat bahwa bukan berarti sudah tidak diberlakukannya lockdown lalu artinya semua orang telah pulih dari tekanan akibat kondisi pandemi.

“Bagi saya, kesimpulannya adalah ada masalah serius dengan kesehatan mental dan anak-anak di sekitar pandemi. Hanya karena lockdown berakhir, bukan berarti kita semua sudah baik-baik saja,” pungkas Prof. Ian

1
3