Share

Ibu Hamil Jangan Sedih Berkepanjangan, Awas Lahirkan Bayi Prematur!

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 01 Desember 2022 14:07 WIB
$detail['images_title']
Ibu hamil (Foto:Istock)

IBU yang bahagia akan menciptakan generasi penerus yang sehat, hebat dan bahagia memang benar adanya jika dilihat dari segi medis. Diketahui bahwa banyak masalah kesehatan yang bisa mengintai, bila seorang wanita atau calon ibu merasa tidak bahagia selama menjalani kehamilannya.

Pentingnya untuk merasa bahagia, terutama pada wanita hamil, yang diungkap dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, Sp.OG. Apalagi ibu hamil mengalami banyak perubahan tubuh, mental, hingga hormonal.

ibu hamil

"Selama masa kehamilan, banyak perubahan yang terjadi pada wanita, dari mulai fisik hingga psikis, serta yang tidak tampak yakni perubahan hormonal," jelas dr. Dara, dikutip dari keterangan resminya.

Lebih lanjut dr. Dara menjelaskan, bahwa pada trimester pertama, hormon yang meningkat dalam tubuh wanita antara lain hormon estrogen dan progesteron serta hormon meta chorionic gonadotropin yang kerap mengakibatkan mual dan muntah.

"Makanya tak heran di trimester pertama sekitar 75 sampai 80 persen ibu hamil pasti mual. Nah, yang 20 persen sisanya, enggak mual atau istilahnya hamil kebo," lanjutnya.

Ketiga hormon yang disebutkan di atas cukup berpengaruh pada perubahan psikis ibu hamil, sehingga tak jarang wanita mengandung memang lebih mudah sedih, menangis, dan gampang marah-marah.

Hal itu selaras dengan survei yang dilakukan oleh aplikasi Teman Bumil pada 1.504 orang ibu hamil. Hasil survei memperlihatkan 64,6 persen mengaku jadi lebih mellow dan sering sedih. Sementara 38,4 persen responden mengaku jadi lebih stres ketika hamil.

Kemudian, selain masalah hormonal, ada sejumlah faktor eksternal yang bisa menjadi pemicu itu tidak bahagia atau stres. Menurut survei Teman Bumil, kondisi finansial yang belum stabil sebanyak 44,3 persen dan menempati urutan pertama.

Follow Berita Okezone di Google News

Kemudian faktor yang berada di peringkat kedua yaitu masalah kehamilan yang cukup menggangu, dengan total 35,8 persen. Sementara itu di posisi ketiga ada faktor belum tau dan sulit menyiapkan biaya persalinan sebanyak 23,9 persen, masih harus bekerja untuk mengurus pekerjaan rumah tangga sendirian 21,5 persen, dan menjalani kehamilan sambil mengurus anak 20,7 persen.

Meski masalah kebanyakan terjadi di trimester pertama, kondisi psikis yang naik turun bisa berlanjut hingga trimester kedua, dan trimester ketiga loh!

Tapi, hal yang paling mengganggu yaitu di trimester kedua, biasanya menyangkut soal bentuk fisik. Sedangkan pada trimester ketiga, dr. Dara mengungkapkan bahwa ibu hamil kerap stres berhubungan dengan proses persalinan yang akan dilakukannya.

Patut diingat, meski kadang rasa sedih ini tak terhindarkan, kesedihan pada ibu hamil tak boleh dibiarkan terus berlarut-larut, karena akan ada dampak secara tidak langsung pada sang bayi.

"Contoh dampak secara tidak langsung itu ada, seperti ibu-ibu yang bersedih berkepanjangan berpotensi mengalami persalinan prematur, bisa juga anaknya kecil. Kita istilahkan BBLR (bayi berat lahir rendah)," tegas dr. Dara.

1
2