Share

Virus Zombie Kembali Dihidupkan Peneliti, Kenali Dulu 5 Faktanya!

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Jum'at 02 Desember 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi virus, (Foto: Freepik)

PUBLIK baru-baru ini dikagetkan dengan berita terkait virus zombie. Ya, peneliti Eropa baru-baru ini menghidupkan kembali 13 β€œvirus zombie” dari permafrost Siberia Rusia.

Studi yang dipublikasikan di bioRxiv tersebut mengungkap, bahwa salah satu virus yang dihidupkan tersebut, Pandoravirus Yedoma, berusia lebih dari 48.500 tahun. Sementara virus lainnya juga berumur puluhan ribu tahun.

Berita ini lantas menimbulkan kepanikan masyarakat dunia. Lantas, apa itu virus zombie dan tujuan mereka dihidupkan kembali? Apakah momentum ini, jadi pertanda ygang harus dicemaskan oleh masyarakat dunia? Berikut beberapa fakta terkait virus zombie, seperti diwarta dari Times of India, Jumat (2/12/2022).

1.Bukan virus yang dapat mengubah manusia jadi zombie: Virus zombie hanyalah nama istilah yang diberikan untuk virus yang membeku di dalam es, sebagai virus yang tak aktif. Meski namanya zombie, mbukan berarti virus ini akan mengubah manusia bisa menjadi zombie seperti yang ada di film-film selama ini. Selaras dengan analoginya, virus sebenarnya merupakan 'mayat hidup' seperti zombie fiksi, dan bisa kembali hidup dan aktif dalam keadaan tertentu.

2. Kenapa dihidupkan kembali: Para ilmuwan bertujuan ingin menunjukkan bahwa virus-virus itu berpotensi hidup kembali dan menjadi aktif kembali akibat meningkatnya pemanasan global.

β€œEs yang saat ini menjebaknya bisa mencair, melepaskan virus menular ini ke atmosfer. Ini adalah masalah kesehatan masyarakat,” tulis Peneliti utama, di Science Alert, Jean-Marie Alempic.

Follow Berita Okezone di Google News

3. Apakah virus zombie berbahaya bagi manusia: Ya, karena para peneliti sudah memperingatkan bahwa beberapa dari "virus zombie" ini berpotensi berbahaya bagi manusia. Seperti yang terlihat sebelumnya, permafrost yang mencair bisa merenggut nyawa manusia. Pada 2016, wabah antraks di Siberia menyebabkan kematian seorang anak dan puluhan orang harus dirawat di rumah sakit. Menurut para pejabat setempat, wabah mungkin dimulai setelah gelombang panas mencairkan permafrost dan menggali bangkai rusa yang terinfeksi antraks beberapa dekade lalu.

4.Risiko infeksi penularan virus zombie: Sejauh ini tak ada penjelasan yang cukup, tentang apakah virus zombie ini akan menginfeksi inang jika dicairkan dalam kondisi luar ruangan seperti panas, oksigen, dan sinar UV. Namun, para peneliti menilai kalau memang risikonya tetap ada. Terutama, karena semakin banyaknya orang yang mulai menempati Kutub Utara yang mencair untuk usaha komersial dan industri.

β€œMaka dari itu, valid memang untuk merenungkan risiko partikel virus kuno tetap menular dan kembali ke sirkulasi dengan mencairnya lapisan permafrost kuno,” kata studi tersebut.

5. Perlukah untuk panik? Terlepas dari faktor risiko potensial, peneliti menilai tidak perlu panik berlebihan dan bertanya-tanya mengapa para peneliti menghidupkan virus ini kembali ke atmosfer. Menurut peneliti, tidak ada salahnya menghidupkan kembali virus untuk tujuan penelitian ini. Lebih penting lagi, strain yang dipelajari terutama hanya menginfeksi mikroba amuba.

1
2