Share

Keempat Terbanyak di Indonesia, Kenapa Kasus Kanker Kolorektal Tinggi?

Syifa Fauziah, Jurnalis · Kamis 01 Desember 2022 16:15 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi pasien kanker, (Foto: Freepik)

KANKER kolorektal atau kanker usus besar mungkin memang tak terlalu familiar di kalangan masyarakat awam.

Padahal, faktanya dari catatan GLOBOCAN 2020, di Indonesia sendiri hampir 12 persen kejadian baru kanker pada laki-laki dan hampir 6 persen kejadian baru kanker pada perempuan. Merujuk pada data ini, kasus kejadian kanker kolorektal menempati urutan keempat tertinggi di Indonesia dengan lebih dari 34 ribu kejadian baru sepanjang tahun 2020 di Indonesia.

Disampaikan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP, angka kanker kolorektal cukup tinggi di Tanah Air karena ada perubahan pola hidup dalam masyarakat.

"Hal itu karena ada perubahan dalam gaya hidup, cara makan dan berperilaku (dari masyarakat)," ujar Prof Aru kepada media dalam Webinar betajuk ‘Waspada Kanker Usus Besar: Pahami Risikonya dengan PERIKSA: Peduli Risiko Kanker Kolorektal Sejak Awal, baru-baru ini.

Berbagi pengalamannya, Prof Aru mengaku selama ini banyak pasien kanker yang datang periksa dan berobat kepada dirinya dalam keadaan sudah stadium yang cukup tinggi. Tak hanya itu, kasus tersebut banyak dialami oleh banyak orang yang relatif berusia muda, berusia di bawah 50 tahun.

"Jauh dari dari angka yang kita dapatkan di negara maju. Ini satu fenomena yang memprihatinkan tapi kurang agak diperhatikan," jelasnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Berkaca pada kondisi di lapangan, Prof Aru menyarankan masyarakat untuk lebih peduli kepada diri sendiri dalam upaya pencegahan kanker kolorektal, dengan melakukan skrining. Mengingat selama ini, nihil yang rutin melakukannya.

"Tidak ada yang skrining, kita termasuk YKI mendorong selama ini skrining payudara, tapi bagusnya sudah masuk kanker usus besar sesuai dengan masalah yang muncul di masyarakat," terangnya dengan gamblang

Beruntungnya, pada 2024 penyakit kanker kolorektal akan jadi bagian suatu gerakan edukasi deteksi dini ke masyarakat dan akan ada pelatihan yang sudah jadi lampu kuning bagi kesehatan Indonesia.

Sementara untuk saat ini, yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan deteksi dini melakukan pemeriksaan kotoran setahun sekali.

"Kalau ada kecurigaan dilanjutkan pemeriksaan lanjutan. Bagi mereka yang mampu pada usia 50 tahun, walau saya sarankan di usia 45 tahun harus jalani pemeriksaan endoskopi usus besar diulang 10 atau 15 tahun. Kalau ditemukan stadium dini, kanker bisa disembuhkan," tegas Prof. Aru

 BACA JUGA:Ibunda Kiki Farrel Meninggal karena Kanker Usus, Ini 7 Ciri yang Harus Diwaspadai

BACA JUGA:Parah, 70% Kanker Payudara Ditemukan Pada Stadium Lanjut

1
2