Share

Sederet Mitos Tentang HIV/AIDS, Nomor 5 Paling Sering Terdengar

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 01 Desember 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Hari AIDS Sedunia, (Foto: Freepik)

HARI AIDS Sedunia (HAS) rutin diperingati pada 1 Desember di setiap tahunnya. Momen Hari AIDS Sedunia ini bertujuan selain meningkatkan awareness atau kepedulian terkait AIDS, juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat akan pentingnya pencegahan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam pengendalian HIV/AIDS.

Mengutip laman resmi Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan RI, menurut data modeling AEM, tahun 2021 diperkirakan ada sekitar 526,841 orang hidup dengan HIV dengan estimasi kasus baru sebanyak 27 ribu kasus dan sekitar 40 persen dari kasus infeksi baru ini dialami oleh kaum perempuan.

Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi pandemi Covid-19, retensi pengobatan ARV yang rendah, ada ketidaksetaraan dalam layanan HIV, bahkan serta stigma dan diskriminasi yang berawal dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS.

Ya, mitos terkait AIDS memang masih banyak beredar di kalangan masyarakat. Apa saja mitos-mitos terkait AIDS tersebut? Mewarta Healthline dan Web MD  Kamis (1/12/2022) yuk simak enam mitos soal AIDS berikut ini.

1. HIV/AIDS adalah hukuman mati: Alias jika sudah positif terinfeksi maka sama saja hidup seseorang otomatis berakhir. Padahal dengan pengobatan yang tepat, orang dengan HIV-AIDSA bisa untuk hidup normal. Sejak 1996, sudah ada terapi antiretroviral yang sangat aktif, orang dengan HIV yang bisa melakukan terapi antiretroviral (ART) bisa punya peluang untuk hidup normal selama meminum obat yang diresepkan.

2. Bisa tahu pasien positif AIDS hanya dengan melihat: Hanya mitos, karena jika seseorang tertular virus HIV, gejalanya sebagian besar biasa-biasa saja dan bisa terlihat seperti jenis infeksi lainnya, seperti demam, kelelahan, atau rasa tidak enak badan atau dengan kata lain tak ada gejala khusus yang menonjol. Selain itu, gejala ringan awal biasanya hanya berlangsung beberapa minggu. Seseorang dengan HIV yang berobat dengan antiretroviral, biasanya relatif sehat dan tidak berbeda dengan orang lain.

Follow Berita Okezone di Google News

3. Positif HIV-AIDS tak bisa punya anak: Orang dengan HIV-AIDS, tetap bisa punya anak. Dengan pengobatan untuk HIV sudah sangat maju, jika pasien wanita meminum obat HIV setiap hari seperti yang direkomendasikan dokter selama masa kehamilan termasuk melahirkan, dan melanjutkan pengobatan untuk bayinya selama 4 sampai 6 minggu setelah kelahiran, risikonya penularan HIV ke bayi bisa berkurang 1 persen atau kurang.

4. Positif HIV otomatis AIDS: HIV memang infeksi yang menyebabkan AIDS, tapi ini tak berarti semua orang yang positif HIV pasti juga mengidap AIDS. AIDS adalah sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV, yang menyerang sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu dan berhubungan dengan melemahnya respon kekebalan tubuh dan infeksi oportunistik. AIDS sendiri bisa dicegah dengan pengobatan dini infeksi HIV.

5. Bisa tertular jika di dekat orang positif: Ini benar-benar mitos yang keliru, karena seseorang tak akan terinfeksi HIV-AIDS hanya karena berdekatan dengan orang posif HIV-AIDS.

Harus diingat kalau HIV AIDS itu tidak menyebar dan menular melalui sentuhan, air mata, keringat, air liur, atau kencing. Seseorang tak akan terinfeksi, hanya karena menghirup udara yang sama, menyentuh dudukan toilet atau gagang pintu, pakai peralatan olahraga di gym, atau berjabat tangan bahkan berpelukan dengan pasien positif. Sebab, media penularannya dalah dari darah yang terinfeksi, air mani, cairan vagina, atau ASI.

 BACA JUGA:Suka Tidur dengan Teman Kencan Berbeda-beda, Ingat Vaksin HIV Belum Ada!

BACA JUGA:Apa Benar Pengidap HIV Pasti Kena AIDS?

1
2