Share

Disebut Jadi Penyebab Pandemi Tersembunyi, Apa Itu Resistensi Antibiotik?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 30 November 2022 11:47 WIB
$detail['images_title']
Mengalami resistensi antibiotik (Foto:Flexjobs)

RESISTENSI antibiotik akibat mikroba (AMR) berpotensi menjadi silent pandemic alias pandemi tersembunyi. Sebab angka kematian akibat AMR sangat tinggi, lebih tinggi daripada kematian akibat Covid-19.

Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kematian akibat AMR disebabkan oleh antibiotik yang sudah tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu yang diderita oleh pasien.

antibiotik

"Sebanyak 1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu,” kata Wamenkes Dante Saksono Harbuwono dalam situs Sehat Negeriku.

Wamenkes Dante menilai resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi, karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya, infeksi pada pasien bertambah parah dan menyebabkan angka kematian tinggi.

Lalu apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang kebal terhadap pengobatan (obat) yang menyebabkan bertambah lamanya seseorang menderita suatu penyakit. Selain itu juga meningkatnya resiko kematian dan semakin lamanya masa rawat inap di Rumah Sakit.

Dikutip dari Dinkes Kalbar, saat pengobatan menjadi lambat bahkan gagal, pasien dapat menjadi inang bakteri (carrier). Hal inilah yang memungkinkan resistensi antibiotik terjadi pada lebih banyak orang.

 BACA JUGA:Cegah Resistensi Antimikroba, Cermat Gunakan Antibiotik

Penelitian yang dilakukan WHO menyimpulkan bahwa angka kematian akibat infeksi E. coli 2 kali lipat lebih tinggi pada bakteri resisten dibanding bakteri tidak resisten.

Follow Berita Okezone di Google News

Pada infeksi pneumonia, angka ini berkisar di 1,9 kali lipat, dan 1,6 kali lipat pada infeksi S. aureus.

Di Eropa, 25.000 kematian disebabkan oleh infeksi yang resisten setiap tahunnya.

Resistensi antibiotik menyebabkan waktu rawat inap yang bertambah sebanyak rata-rata 4,65 hari, dan waktu rawat ICU sebanyak 4 hari.

1
2