Share

Apa Benar Resistensi Antibiotik Jadi Penyebab Pandemi Tersembunyi?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 30 November 2022 11:02 WIB
$detail['images_title']
Mengalami resistensi antibiotik (Foto: NPR)

RUPANYA resistensi antibiotik akibat mikroba (AMR) berpotensi menjadi silent pandemic alias pandemi tersembunyi. Sebab angka kematian akibat AMR sangat tinggi, lebih tinggi daripada kematian akibat Covid-19.

Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono Harbuwono menjelaskan, kematian akibat AMR disebabkan oleh antibiotik yang sudah tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu yang diderita oleh pasien.

 antibiotik

"Sebanyak 1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu,” kata Wamenkes Dante Saksono Harbuwono dalam situs Sehat Negeriku.

Wamenkes Dante menilai resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi, karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya, infeksi pada pasien bertambah parah dan menyebabkan angka kematian tinggi.

Selain itu, resistensi antibiotik akibat mikroba bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Wamenkes Dante menyoroti pendekatan one health dalam merespons masalah tersebut.

 BACA JUGA:Sudah Adakah Pasien Resistensi Obat Covid-19 di Indonesia?

“Melalui pendekatan one health, di mana infeksi itu bisa berasal dari hewan, tumbuhan. Itu juga penting dilakukan karena ternyata banyak sekali penggunaan antibiotik pada hewan dan tumbuhan yang tidak rasional yang menyebabkan resistensi pada manusia,” jelas Wamenkes Dante.

Follow Berita Okezone di Google News

Meski demikian, pihaknya akan mempercepat upaya penanggulangan AMR terutama di Indonesia. Negara-negara G-20 juga memiliki peran strategis untuk mendorong pencegahan dan pengendalian AMR yang berkelanjutan di tingkat nasional dan global

Kementerian Kesehatan juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan kementerian teknis lainnya dan secara bersamaan melakukan transformasi sistem kesehatan.

“Di antara inisiatif yang dilakukan, kami menawarkan penyelesaian masalah AMR, yakni dengan pembentukan inisiatif sains berbasis genom biomedis pada pengobatan yang bersifat presisi,” katanya.

1
2