Share

Polio Tak Melulu Langsung Menyebabkan Kelumpuhan? Cek Faktanya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 29 November 2022 13:28 WIB
$detail['images_title']
Vaksinasi Polio satu-satunya cara mencegah terinfeksi, (Foto: Reuters)

SUDAH pernah hilang tuntas sejak 2014, kini polio kembali muncul di Indonesia seiring dengan ditemukan stau kasus terkonfirmasi di Pidie, Aceh.

Satu kasus pertama yang ditemukan terjadi pada anak berusia 7 tahun. Menurut laporan Kementerian Kesehatan, pasien mengalami kelumpuhan yang kini masih sedang ditangani. Infeksi virusnya sendiri pun sedang diobati.

Namun di sisi lain, tak berselang lama kemudian, di satu Desa yang sama juga ditemukan kasus positif virus polio di wilayah yang sama dengan kasus pertama, namun pasiennya tidak mengalami kelumpuhan. Situasi ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat awam, kenapa bisa kasus positif virus polio tersebut tak membuat korbannya mengalami kelumpuhan?

Dijelaskan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, salah satu faktor dari tidak lumpuhnya anak yang terkonfirmasi positif virus polio adalah ternyata karena adanya riwayat imunisasi pada tubuh anak tersebut.

"Anaknya punya riwayat imunisasi polio. Jadi, dia memang positif virus polio, tapi tidak lumpuh,” jelas dr. Nadia, beberapa waktu lalu.

Nadia menegaskan, selain saat ini tak lumpuh, anak kasus positif virus polio itu juga ke depannya tak akan mengalami kelumpuhan.

“Dan tidak akan lumpuh karena sudah divaksin polio," tegas dr. Nadia

Follow Berita Okezone di Google News

Perlu diketahui, menurut data Alodokter yang diterima MNC Portal, Selasa (29/11/2022), penyakit polio sendiri dibagi menjadi dua jenis dilihat dari karakter gejala yang muncul.

"Berdasarkan gejalanya, terdapat dua jenis polio, yaitu polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan (nonparalisis) dan polio yang menyebabkan kelumpuhan (paralisis)," ungkap laporan tersebut.

Nah, seperti apa jelasnya kedua jenis polio tersebut? Pertama ada tipe Polio Nonparalisis, jenis polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan dan gejala ini berlangsung selama 1 sampai 10 hari yang akan menghilang dengan sendirinya.

Gejala ketika terinfeksi, mulai dari demam, sakit kepala, radang tenggorokan, muntah, otot terasa lemah, kaku di bagian leher dan punggung, nyeri dan mati rasa di bagian lengan atau tungkai.

Sementara jenis yang kedua, ialah Polio Paralisis yang merupakan tipe polio yang berbahaya, karena menyebabkan kelumpuhan saraf tulang belakang dan otak secara permanen pada penderitanya. Jenis ini punya gejala awal yang terjadi serupa dengan gejala polio nonparalisis, namun setelah sekira satu minggu, akan ada gejala lain yang mengikuti. Contohnya hilangnya refleks tubuh, ketegangan otot yang terasa nyeri, tungkai atau lengan terasa lemah.

Lebih lanjut, dr. Abi Noya selaku dokter sekaligus Medical Content Marketing Senior Manager Alodokter menegaskan bahwa jika sudah terkena polio, maka penanganannya akan sulit sekali. Apalagi sampai sekarang, penyakit infeksi virus ini belum ada obatnya yang bisa menyembuhkan secara total menyeluruh.

Pengobatan yang ada saat ini biasanya, baru di tahap mampu meringankan keluhan, memperlambat perjalanan penyakitnya, dan mencegah komplikasi.

“Maka dari itu, jangan menyepelekan pepatah yang sudah sering kita dengar. Mencegah lebih baik daripada mengobati, yakni dengan menepati jadwal imunisasi dasar yang sudah dicanangkan pemerintah melalui program-program Kementerian Kesehatan RI, kita bisa mencegah bahkan mengakhiri penyebaran polio," tutup dr. Abi.

1
2