Share

Duh! Ibu Hamil yang Suka Sedih Berkepanjangan Berpotensi Melahirkan Prematur

Raden Yusuf Nayamenggala, Jurnalis · Rabu 30 November 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
ibu hamil yang tak bahagia bisa berdampak pada bayi, (Foto: Freepik)

ANDA pasti pernah mendengar istilah terkenal ‘happy mom happy life’. Ya, ternyata ini bukan hanya istilah semata loh!

Sebab, ibu yang bahagia akan menciptakan generasi penerus yang sehat, hebat dan bahagia memang benar adanya jika dilihat dari segi medis. Diketahui bahwa banyak masalah kesehatan yang bisa mengintai, bila seorang wanita atau calon ibu merasa tidak bahagia selama menjalani kehamilannya.

Pentingnya untuk merasa bahagia, terutama pada wanita hamil, yang diungkap dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, Sp.OG, mengalami banyak perubahan. Tubuh, mental, hingga hormonal.

"Selama masa kehamilan, banyak perubahan yang terjadi pada wanita, dari mulai fisik hingga psikis, serta yang tidak tampak yakni perubahan hormonal," jelas dr. Dara, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (30/11/2022).

Lebih lanjut dr. Dara menjelaskan, bahwa pada trimester pertama, hormon yang meningkat dalam tubuh wanita antara lain hormon estrogen dan progesteron serta hormon meta chorionic gonadotropin yang kerap mengakibatkan mual dan muntah.

"Makanya tak heran di trimester pertama sekitar 75 sampai 80 persen ibu hamil pasti mual. Nah, yang 20 persen sisanya, enggak mual atau istilahnya hamil kebo," lanjutnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Ketiga hormon yang disebutkan di atas cukup berpengaruh pada perubahan psikis ibu hamil, sehingga tak jarang wanita mengandung memang lebih mudah sedih, menangis, dan gampang marah-marah.

Hal itu selaras dengan survei yang dilakukan oleh aplikasi Teman Bumil pada 1.504 orang ibu hamil. Hasil survei memperlihatkan 64,6 persen mengaku jadi lebih mellow dan sering sedih. Sementara 38,4 persen responden mengaku jadi lebih stres ketika hamil.

Kemudian, selain masalah hormonal, ada sejumlah faktor eksternal yang bisa menjadi pemicu itu tidak bahagia atau stres. Menurut survei Teman Bumil, kondisi finansial yang belum stabil sebanyak 44,3 persen dan menempati urutan pertama.

Kemudian faktor yang berada di peringkat kedua yaitu masalah kehamilan yang cukup menggangu, dengan total 35,8 persen. Sementara itu di posisi ketiga ada faktor belum tau dan sulit menyiapkan biaya persalinan sebanyak 23,9 persen, masih harus bekerja untuk mengurus pekerjaan rumah tangga sendirian 21,5 persen, dan menjalani kehamilan sambil mengurus anak 20,7 persen.

 BACA JUGA:Polemik Gaji hingga Proteksi dari Bullying Senior, 5 Alasan PB IDI Bersikeras Tolak RUU Kesehatan

BACA JUGA:Menkes Imbau Pasutri Atur Waktu Kehamilan untuk Cegah Kematian Bayi: Jangan Hamil Usia Muda

Meski masalah kebanyakan terjadi di trimester pertama, kondisi psikis yang naik turun bisa berlanjut hingga trimester kedua, dan trimester ketiga loh!

Tapi, hal yang paling mengganggu yaitu di trimester kedua, biasanya menyangkut soal bentuk fisik. Sedangkan pada trimester ketiga, dr. Dara mengungkapkan bahwa ibu hamil kerap stres berhubungan dengan proses persalinan yang akan dilakukannya.

Patut diingat, meski kadang rasa sedih ini tak terhindarkan, kesedihan pada ibu hamil tak boleh dibiarkan terus berlarut-larut, karena akan ada dampak secara tidak langsung pada sang bayi.

"Contoh dampak secara tidak langsung itu ada, seperti ibu-ibu yang bersedih berkepanjangan berpotensi mengalami persalinan prematur, bisa juga anaknya kecil. Kita istilahkan BBLR (bayi berat lahir rendah)," tegas dr. Dara.

Selain itu, ketika para ibu hamil sedih dan banyak pikiran, lalu berlanjut menjadi malas makan atau tidak teratur makan. Ini bisa mengakibatkan janin kekurangan nutrisi lalu mengalami BBLR.

Padahal, tanpa rasa sedih dan tak bahagia yang berlarut-larut ini. Sudah ada faktor risiko lainnya, yakni kalau tidak menjaga kebersihan diri, hingga berisiko tubuh sang ibu terpapar banyak bakteri yang bisa masuk dari vagina ke dalam rahim, dan menginfeksi selaput ketuban yang bisa memperbesar potensi mengalami ketuban pecah dini dan persalinan prematur.

1
3