Share

Ini 2 Provinsi dengan Angka Kematian Penyakit Jantung Tertinggi

Kevi Laras, Jurnalis · Sabtu 26 November 2022 15:53 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Sakit Jantung. (Foto: Shutterstock)

SAKIT jantung memang masuk dalam daftar penyebab kematian terbesar di Indonesia. Penyakit jantung pun tercatat menjadi penyebab kematian terbesar kedua, setelah stroke.

Lantas di mana saja tingkat kematian tertinggi akibat penyakit jantung di Indonesia? Dokter spesialis jantung dr Radityo belum dapat dipastikan, sebab dia melihat kemungkinan kurangnya pemerataan dan sistem pendataan pasien atau angka kematian belum baik.

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini, ada dua provinsi yang tinggi kematian diantaranya Kalimantan Utara dan Sulawesi Utara.

Sakit Jantung

"Angka kesakitan dan kematian ini justru ada di provinsi provinsi tertentu, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, tapi di Irian justru tidak ada datanya. jelas dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Ketua PERKI tahun 2022 - 2025 dalam Indonesian Society of Interventional Cardiology Annual Meeting.

"Jadi ini karena masuk pendataannya belum merata, apakah bisa dicatatkan satu provinsi ini lebih banyak kematian akibat penyakit jantungnya tidak bisa diprediksi," tambahnya.

Sejauh ini, dokter spesialis Jantung yang paling banyak berada di DKI Jakarta. Jumlahnya 1 banding 38.000 penduduk, angka ini lebih baik, dibandingkan dengan provinsi yang tidak memiliki dokter spesialis sama sekali seperti di Papua.

Follow Berita Okezone di Google News

Kurangnya jumlah dokter spesialis jantung, juga disampaikan oleh Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI). Menyatakan saat ini Indonesia mengalami kekurangan jumlah dokter spesialis, dan alat pemeriksaan untuk menangani pasien dengan penyakit jantung.

"Kita masih kekurangan alat kateter dan tenaga kesehatan. Mungkin bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah, mudah-mudahan angka bisa dikejar dengan kualitas yang baik,” kata Ketua PIKI Doni Firman dalam kesempatan yang sama

Berdasarkan datanya, sampai tahun ini Indonesia baru memiliki 329 tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dalam intervensi kardiologi. Sedangkan pada tahun 2023, diperkirakan hanya naik sekitar 400 orang.

1
2