Share

Banyak Korban Jiwa akibat Gempa Cianjur, Berapa Lama Manusia Bisa Bertahan di Bawah Reruntuhan Bangunan?

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 24 November 2022 15:30 WIB
$detail['images_title']
Reruntuhan Gempa Cianjur, (Foto: Okezone/Antara)

GEMPA bumi yang berpusat di Cianjur, sampai per Rabu 23 November 2022 tercatat oleh BNPB mengakibatkan sebanyak 271 korban meninggal dunia dan 2.043 orang terluka.

Banyaknya korban jiwa berjatuhan akibat gempa bumi di Cianjur tersebut, disebutkan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagai akibat gempa dangkal juga akibat struktur bangunan di wilayah yang  terdampak tidak memenuhi standar akan bangunan yang tahan gempa.

"Mayoritas bangunan yang terdampak, karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa," papar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

Ia menjelaskan, banyaknya korban meninggal dunia dan luka-luka dalam peristiwa gempa ini, bukan akibat guncangan gempa. Tapi karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai standar struktur aman gempa tersebut.

"Perlu dipahami, banyaknya korban jiwa dan luka-luka dalam gempa bumi Cianjur bukan diakibatkan guncangan gempa. Melainkan karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempa bumi,” jelas Dwikorita dalam keterangan resminya, dikutip dari laman resmi BMKG, Kamis (24/11/2022).

Menilik kejadian gempa di Cianjur tersebut, berapa lama sebetulnya manusia bisa bertahan hidup di bawah reruntuhan bangunan?

Melansir News18, menurut para ahli, seseorang yang terperangkap di dalam reruntuhan setidaknya bisa bertahan hidup paling lama seminggu (dalam keadaan terbaik).

Banyak faktor yang memainkan peran penting agar seseorang bisa bertahan hidup dan selamat. Mulai dari sampai mana terlukanya korban tersebut, apakah ada cukup udara untuk bernafas, hingga cuaca ekstrem, ini semua menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan hidup korban di bawah reruntuhan.

Dokter Richard Moon, pakar kelangsungan hidup Universitas Duke mengatakan dalam aspek penyelamatan korban reruntuhan sebenarnya makanan bukan jadi aspek utama atau masalah besar, sebab secara alamiah seseorang bisa bertahan hidup selama berminggu-minggu tanpa makan. Namun, sebagian besar memang hanya bisa bertahan beberapa hari tanpa air.

 BACA JUGA:Benarkah Orang Sesak Napas dalam Kerumunan Tak Boleh Diberi Minum? Ini Kata Dokter!

BACA JUGA:Kenapa Saat Terjebak di Kerumunan Tidak Boleh Panik? Ini Penjelasan Medisnya

Kunci utamanya ada di kecepatan waktu, sebab penyelamatan utama terjadi 24 jam setelah bencana, dan setelah itu peluang bertahan hidup akan terus berkurang setiap hari.

Julie Ryan, koordinator International Rescue Corps (IRC) yang berbasis di Inggris, mengatakan seseorang yang terperangkap dalam reruntuhan seperti korban gempa, idealnya bisa memiliki suplai oksigen dari dunia luar, dan akses ke air untuk bisa bertahan hidup sebelum akhirnya bisa diangkat dari reruntuhan tersebut.

Tidak hanya itu, suhu udara juga sangat berpengaruh. Sebab, jika area jebakan atau perangkap itu terlalu panas, manusia bisa kehilangan air lebih cepat. Ini bisa menipiskan harapan dan peluang untuk bertahan hidup.

1
3