Share

Update Kasus Gangguan Ginjal Akut, Pasien Dirawat di RS Terbanyak dari DKI Jakarta

Kevi Laras, Jurnalis · Kamis 24 November 2022 19:17 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi pasien gangguan ginjal akut, (Foto: Freepik)

KEMENTERIAN Kesehatan RI mencatat untuk perkembangan terakhir terkait kasus gangguan ginjal akut di Indonesia, saat ini total ada 324 kasus dari 27 Provinsi.

Berdasarkan datanya, DKI Jakarta diketahui menjadi Provinsi terbanyak untuk jumlah pasien yang dirawat. Para pasien merupakan anak-anak yang terdampak dari obat sirup tercemar bahan kimia toksik (berbahaya/beracun) yaitu etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), yang semua dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).

“Hingga saat ini kasus gangguan ginjal akut pada anak yang masih dirawat tersisa 11 orang,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Muhammad Syahril dalam keterangan yang diterima MNC Portal, Kamis (24/11/2022)

“Ini merupakan upaya bersama di mana angka penambahan tidak ada dan angka kematian juga tidak ada lagi, yang ada adalah angka kesembuhan,” tambahnya

Kemenkes mencatat dari total 324 kasus gangguan ginjal akut pada anak tersebut, dengan rincian sebanyak 313 pasien sudah dinyatakan sembuh. Meski demikian, gangguan ginjal akut yang menyebar hingga ke-27 Provinsi di Indonesia ini masih menyisakan 11 kasus masih dirawat dari 3 Provinsi.

Ketiga Provinsi tersebut, yakni DKI Jakarta dengan total 9 kasus yang dirawat di RSUPN Cipto Mangungkusumo, Kepulauan Riau 1 kasus, dan Sumatera Utara 1 kasus.

Dalam perawatannya di RSCM, dr. Syahril mengungkap para pasien mendapatkan obat penawar antidote Fomepizole yang sudah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO)

 BACA JUGA:Tersisa 11 Pasien Gagal Ginjal Akut di RSCM, Kemenkes: 2 Minggu Tak Ada Penambahan Kasus

BACA JUGA:Catat! 7 Kombinasi Vaksin Booster Covid-19 Dosis 2 untuk Lansia dari Kemenkes

"Penggunaan fomepizole menunjukkan 95 persen pasien anak di RSCM memperlihatkan perkembangan yang terus membaik. Artinya, efikasinya baik dalam memberikan kesembuhan," jelas dr. Syahril dalam kesempatan yang berbeda .

Tidak hanya pasien yang masih dirawat, dr. Syahril menerangkan para pasien yang telah dinyatakan sembuh pun tetap dipantau kondisinya oleh pemerintah. Kemenkes melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat masih melakukan pemantauan, agar bisa mengetahui perkembangan selanjutnya.

“Kita terus kontrol untuk melihat perkembangannya, mungkin ada suatu efekefek atau masalah-masalah kesehatan selanjutnya,” pungkasnya singkat.

1
2