Share

Kisah Paul Alexander, Penyintas Polio yang Harus Pakai Paru-paru Besi

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 22 November 2022 12:00 WIB
$detail['images_title']
Paul Alexander, (Foto: The Guardia/ Allison Smith)

WABAH penyakit polio memang sudah terjadi sejak lama, bahkan penyintasnya puluhan tahun lalu pun masih harus hidup dengan kebutuhan khusus akibat polio.

Contohnya Paul Alexander, yang kini sudah berusia 76 tahun. Ia terjangkit polio di tahun 1952 saat dirinya baru berusia 6 tahun. Gara-gara polio, Paul lumpuh seumur hidup dan menjadi salah satu orang terakhir di dunia yang masih menggunakan paru-paru besi hingga saat ini, setelah selamat dari satu wabah mematikan tersebut.

Bulan Juli 1952 Paul saat itu tiba-tiba merasa tidak enak badan dan merasakan sakit di bagian lehernya. Tak hanya itu, ia merasakan kepalanya juga berdenyut. Selama beberapa hari berikutnya, kondisi Paul semakin memburuk.

Perburukannya terjadi dengan cepat, hanya dalam waktu lima hari kemudian, Paul tidak bisa lagi memegang krayon, berbicara, menelan, atau pun batuk. Orang tua Paul kemudian membawanya ke rumah sakit Parkland yang saat itu bahkan sudah menyediakan bangsal polio khusus karena banyak anak-anak yang terjangkit polio.

Di rumah sakit, dokter kemudian melakukan tindakan trakeotomi darurat untuk menyedot sumbatan di paru-paru Paul sehingga tubuhnya yang lumpuh tidak dapat bergerak. Tiga hari kemudian, Paul terbangun dari tidurnya namun mendapati tubuhnya sudah terbungkus mesin tabung logam, tidak bisa bergerak, berbicara dan tak bisa batuk.

(Paul Alexander, Foto: Allison Smith-The Guardian)

Paul melihat di sekelilingnya, banyak anak-anak yang dengan kondisi sama seperti dirinya. Tubuh yang terbungkus tabung logam dan memakaiparu-paru besi. Paul untungnya memang bisa sembuh dari polio, namun tetap saja penyakit mematikan ini telah membuatnya lumpuh total dari bagian leher ke tubuh bawah.

Diafragma di tubuhnya juga tak lagi berfungsi dengan baik dan digantikan kerjanya oleh paru-paru besi. Ketika udara disedot keluar dari silinder dengan satu set bellow kulit yang ditenagai oleh motor, ada tekanan negatif yang diciptakan oleh ruang hampa untuk memaksa paru-paru Paul bisa mengembang. Saat udara dipompa kembali, perubahan tekanan dengan lembut mengempiskan paru-parunya. Ini adalah desisan dan desahan biasa yang membuat Paul tetap hidup, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (22/11/2022). 

Memakai paru-paru besih, saat tenaga medis memandikan atau mengatur fungsi tubuhnya, Paul pun harus menahan napas.

Poliomielitis atau polio memang penyakit mematikan, membunuh dengan cara membuat mati lemas dengan menyerang neuron motorik di sumsum tulang belakang, melemahkan atau memutus komunikasi antara sistem saraf pusat dan otot.

Tahun 1952 ketika Paul tertular virus sendiri, tercatat sebagai tahun wabah tunggal polio terbesar dalam sejarah Amerika Serikat karena ada hampir 58.000 kasus di seluruh negara. Dari jumlah tersebut, lebih dari 21.000 orang yang kebanyakan anak-anak mengalami berbagai tingkat kecacatan, dan 3.145 di antaranya meninggal dunia.

 BACA JUGA:Waspada 9 Penyakit yang Mengintai Pemilik Perut Buncit, Kanker Salah Satunya

!BACA JUGA:Kenali Beda Tahi Lalat dengan Kanker Kulit

1
2