Share

28 November, Kemenkes Gelar Vaksinasi Polio Serentak di Aceh

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 21 November 2022 18:00 WIB
$detail['images_title']
Vaksinasi Polio (Foto: Reuters/ Akhtar Soomro)

AWAL November 2022 ditemukan satu kasus polio di Kabupaten Pidie. Kasus polio ini didapatkan berdasarkan penelusuran RT-PCR.

Pasien diketahui masih berusia 7 tahun 2 bulan dengan gejala kelumpuhan pada kaki kiri. Gejala awalnya, sang anak mengalami demam di tanggal 6 Oktober. Baru kemudian tanggal 18 Oktober 2022 harus masuk dirawat di RSUD TCD Sigil.

Dari dua spesimen sang anak yang dikirim ke Provinsi, dari hasil RT-PCR keluar yang keluar pada 7 November 2022 hasilnya terkonfirmasi sang anak menderita polio tipe 2.

Kembali hadirnya penyakit polio di Aceh, yang sebelumya sudah dinyatakan selesai-tuntas hilang sejak 2014 ini membuat pemerintah Kabupaten Pidie langsung menerapkan Kejadian Luar Biasa Polio tingkat Kabupaten Pidie.

Dari catatan Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 415 Kabupaten/Kota di 30 Provinsi di Indonesia masuk dalam kriteria risiko tinggi polio karena rendahnya cakupan imunisasi atau vaksinasi polio, termasuk Aceh di dalamnya.

Maka dari itu, sebagai tindak lanjut penanganan, saat ini pemerintah tenggah menggenjot upaya Imunisasi polio.

Mengutip akun twitter resmi Kementerian Kesehatan RI, @KemenkesRI, pemerintah akhir November mendatang akan menggelar vaksinasi serentak di Aceh. Mengingat penyakit ini hanya bisa dicegah, satu-satunya dengan pemberian vaksin polio.

“Pemerintah akan memberikan imunisasi polio tambahan untuk anak usia 0 sampai 13 tahun, serentak pada tanggal 28 November dan 5 Desember 2022 di seluruh wilayah di Aceh,” bunyi cuitan @KemenkesRI, dikutip Senin (21/11/2022).

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Maxi Rein Rondonuwu sendiri tak menampik memang cakupan vaksinasi polio masih rendah, bukan hanya di Aceh tapi di seluruh wilayah Indonesia.

“Kalau melihat cakupan oral polio virus OPV dan IPV, memang seluruh Indonesia rendah terutama saat Pandemi Covid-19,” ujar dr. Maxi Rein Rondonuwu, mengutip laman resmi Sehat Negeriku.

Kemenkes juga mengabarkan, dari penyelidikan epidemiologi, selain cakupan imunisasi Polio yang masih rendah, ditemukannya juga faktor pemicu lainnya yakni faktor perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) penduduk yang masih kurang karena masih ada penduduk yang kebiasaan untuk buang air besar (BAB) terbuka di sungai.

Pasalnya, walau ada toilet, lubang pembuangannya tetap langsung mengalir ke sungai, padahal air sungai tersebut dipakai sebagai sumber aktivitas penduduk sekitar, termasuk tempat bermain anak-anak.

 BACA JUGA:Kemenkes Tegaskan Vaksin Polio Aman dan Efektif, Orangtua Jangan Termakan Hoaks!

BACA JUGA:Studi Temukan Perbedaan Gejala Covid-19 antara Orang yang Sudah Lengkap Vaksinasi, Satu Kali, dan Tak Divaksinasi

1
2