Share

Virus Covid-19 Terus Bermutasi, Apakah Vaksin Perlu Diperbarui?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Jum'at 18 November 2022 14:29 WIB
$detail['images_title']
Vaksinasi Covid-19 (Foto: The prevention)

VIRUS Covid-19 terus bermutasi hingga 2023, hal ini sangat mungkin terjadi. Apalagi saat ini XBB yang merupakan hasil gabungan varian Omicron BA2.1 dan BA2.75 mulai menyebar di seluruh dunia.

Karena ada kemungkinan virus Covid-19 bermutasi terus sampai waktu yang tidak ditentukan, para ahli mendorong peneliti vaksin untuk menciptakan vaksin multivalen atau vaksin yang mampu mengenali banyak antigen virus Covid-19.

 Covid-19 terus bermutasi

Hal itu dirasa penting, karena dapat menjamin tubuh benar-benar terlindungi dari ancaman virus Covid-19 yang terus bermutasi. Hingga kini, peneliti vaksin baru mengembangkan vaksin bivalen atau vaksin yang mampu mencakup 2 antigen virus Covid-19.

"Mungkin ke depan manusia tidak hanya butuh vaksin satu jenis antigen, tapi banyak antigen karena secara alami virus terus bermutasi," papar Dokter Prasenohadi, SpP(K), Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI.

"Jadi, sederhananya begini, saat Anda disuntik vaksin Covid-19, Anda bukan hanya terlindungi dari original virus, tapi varian Delta, Omicron, maupun turunan varian lainnya," jelas dr Pras.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahli Mikrobiologi Universitas Indonesia Prof Amin Soebandrio bahwa secara ilmu dasar, kekebalan itu bersifat spesifik. Artinya, ketika vaksin sudah masuk ke dalam tubuh, lalu membentuk kekebalan, hasil yang terbentuk sesuai dengan antigen yang ada di dalam vaksin.

 BACA JUGA:Varian XBB Cepat Menular, Ahli Mikrobiologi: Tapi Gak Bikin Sakit Parah

"Misalnya gini, di dalam vaksin itu ada antigen yang berfungsi melawan virus berbaju ungu. Kekebalan hanya mampu membaca musuh berbaju ungu. Tapi, virus bermutasi lalu muncullah musuh berbaju belang, kekebalan tidak akan melawan musuh berbaju belang karena tidak dilatih sebelumnya melawan musuh berbaju belang," papar Prof Amin.

Dengan kata lain, ketika virus Covid-19 terus bermutasi, di 2023 mungkin saja telah tercipta musuh dengan karakter yang berbeda dengan yang ada di 2022 ini. Artinya, vaksin perlu diperbaharui sehingga perlindungan tetap maksimal.

"Ini yang telah terjadi di vaksin Influenza. Virus Influenza itu setiap tahun berubah dan karena itu vaksin Influenza pun setiap tahunnya berubah mengikuti perubahan virusnya," tambah Prof Amin.

"Jadi, penting untuk para peneliti vaksin saat ini menciptakan vaksin multivalen yang dapat mengcover banyak virus," usulnya.

1
2