Share

Kasus Covid-19 Harian Tembus 7.800 Lebih, Peneliti: Hampir Seperti Masa Belum Ada Vaksin

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 19 November 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Pandemi Covid-19 (Foto: Reuters/ Issei Kato)

Kementerian Kesehatan RI melaporkan per Kamis 17 November 2022 angka konfirmasi positif Covid-19 meroket bertambah hingga 7.822 kasus. Kembali meroketnya kasus positif harian ini tidak boleh dianggap sebelah mata, dan dianggap jadi sesuatu hal yang biasa termasuk oleh masyarakat.

Mutasi terbaru dari Omicron, subvariant XBB juga jumlah kasusnya semakin bertambah dari hari ke hari. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin bahkan mengungkapkan, varian XBB sudah 80 persen sebarannya di Batam, mengingat lokasinya yang dekat dengan Singapura.

Ya, subvariant XBB yang banyak ditemukan di Indonesia dianggap jadi penyumbang kenaikan angka kasus positif harian. Situasi seperti ini, dinilai Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Griffith University Australia, Dicky Budiman adalah kondisi berbahaya.

Menurut Dicky, kenaikan kasus infeksi atau pun reinfeksi di masyarakat luas saat ini mengisyaratkan bahwa kondisi pandemi kembali ke awal seperti belum ada vaksin Covid-19.

"Ya, ini mendekati posisi seperti masa belum ada vaksin Covid-19,” kata Dicky saat dihubungi MNC Portal baru-baru ini.

Artinya, baik itu orang yang sudah divaksin sekalipun tetap bisa terinfeksi karena sifat dasar XBB dan hampir semua turunan Omicron itu mampu kabur dari kekebalan," sambungnya.

Dengan kata lain, disebut Dicky baik yang sudah divaksin lengkap primer dua dosis hingga dosis lanjutan ketiga (booster) atau tidak divaksin sama-sama tetap berisiko tetap terinfeksi.

“Tentu, risikonya akan lebih tinggi pada kelompok orang-orang yang belum divaksin sama sekali," tegas Dicky.

Menjadi bahaya, lanjutnya, adalah para penyintasa yang sudah positif terinfeksi Covid-19 dua kali. Pada kelompok ini, termasuk yang rentan terinfeksi Covid-19 sekarang.

Sebagai ahli epidemiologi, Dicky menilai kondisi ini semua menuntut kemampuan mencari kasus dilakukan cepat oleh pemerintah. Tujuan utamanya, tentu untuk mencegah penularan virus dan adanya kasus infeksi Covid-19 parah yang telat terdeteksi.

1
2