Share

Obat Sirup Tercemar Tewaskan Ratusan Anak, BPOM: Kematian Korban Tak Boleh Sia-Sia!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 17 November 2022 17:12 WIB
$detail['images_title']
Obat sirup (Foto: Bol news)

KEMENTERIAN Kesehatan mendata per 16 November 2022 ada 199 kematian pada kasus gangguan ginjal akut akibat obat sirup mengandung etilen glikol dan dietilen glikol. Kematian para korban, kata Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito, harus berarti dan dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua.

Penny menerangkan, setiap nyawa yang hilang, tidak boleh hilang dengan kesia-siaan, melainkan menjadi kebaikan untuk kita semua. "Ada hikmah di balik semua ini. Kematian para korban tidak boleh sia-sia. Kepergian mereka harus berarti," ungkap Penny saat konferensi pers virtual, Kamis (17/11/2022).

 BPOM

Proses hukum akan terus berjalan untuk memberi efek jera pada oknum yang melakukan kejahatan obat ini. Lebih lanjut, Penny menilai dari kejadian gangguan ginjal akut akibat cemaran atau kandungan EG dan DEG yang ada di obat sirup ini bisa menjadi langkah awal transformasi BPOM ke arah yang lebih baik.

"Tragedi ini membuka mata kami untuk harus melakukan transformasi, karena banyak 'gap' yang kemudian dimanfaatkan oleh para penjahat dan berdampak pada keselamatan nyawa manusia," ungkapnya.

 BACA JUGA:BPOM Ungkap 2 Perusahaan Farmasi Jadi Tersangka di Kasus Obat Sirup

Penny melanjutkan, dari tragedi ini juga BPOM berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah yang ada, mengidentifikasi sebab masalah, dan memastikan sebab tersebut dicarikan solusinya.

"Kami akan perkuat lagi tupoksi kami sebagai regulator yang menjamin keselamatan dan kesehatan masyarakat," ungkapnya. "Kami memerlukan sumber daya yang lebih besar untuk bisa memastikan obat yang dikonsumsi aman dan bermanfaat," terang Penny.

Agar kasus seperti ini tidak terulang lagi, Penny juga meminta dukungan masyarakat sebagai konsumen obat agar tidak sembarang membeli obat. "Hati-hati jika membeli obat di online, karena setelah kami umumkan daftar obat terlarang saja, masih ada transaksi yang terciduk," kata Kepala BPOM.

1
2