Share

Benarkah Penyakit TBC Lebih Bahaya Daripada Covid-19? Ini Kata Kemenkes!

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 16 November 2022 21:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (foto: Istimewa)

SELAIN Covid-19, Indonesia masih berjuang mengentaskan beberapa penyakit menular yang prevalensinya masih sangat tinggi hingga sekarang. Tuberkulosis (TBC) misalnya, penyakit ini kasusnya bahkan meningkat di 2021.

Dijelaskan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi, TBC jadi penyakit menular yang mendapat perhatian besar pemerintah Indonesia, selain Covid-19.

 penyakit TBC

"TBC itu insidennya meningkat dari 824 ribu kasus di 2020, naik menjadi 969 ribu kasus di 2021. Karena kenaikan kasus tersebut, Indonesia menempati ranking 2 setelah India dalam jumlah kasus TB terbanyak di dunia," papar Imran dalam suatu kesempatan.

Parahnya lagi, di Indonesia terdapat pasien dengan TBC RO atau TBC Resisten Obat. Dalam kasus seperti ini penderita bukan hanya menghadapi masalah kesehatan, tapi beberapa problem lain yang menyertai.

Mulai dari psikis, sosial, hingga finansial. Masalah fisik bukan hanya badan semakin tergerus oleh bakteri penyebab TBC RO, tetapi juga efek samping obat yang dikonsumsi dalam durasi panjang, mulai 9 hingga 24 bulan.

Permasalahan ini yang kemudian membuat banyak orang dengan TBC RO sulit untuk bisa kembali ke lingkungan sosial, berkontribusi pada masyarakat, maupun kembali bekerja mencari nafkah.

"81 persen orang dengan TBC RO mengalami katastropik. Artinya, mereka kehilangan pekerjaan maupun kemampuan produktifnya. Kondisi tersebut membuat 20% dari mereka harus mengeluarkan duit tambahan untuk melanjutkan hidup," terang Koordinator Tim Peneliti STPI Ninik Annisa, dalam konferensi pers virtual, Selasa (18/10/2022).

Follow Berita Okezone di Google News

Parahnya lagi, kebanyakan orang dengan TBC RO berasal dari kategori miskin (penghasilan kurang dari Rp2 juta) hingga rentan miskin (penghasilan Rp2-3 juta). "77% persen orang dengan TBC RO itu masuk dalam kategori miskin hingga rentan miskin," tambahnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengupayakan eliminasi kasus Tuberculosis (TBC) di Indonesia tahun 2030. Ia meminta jajaran kesehatan memprioritaskan pencarian para penderita TBC, 90 persen dari jumlah itu dapat terdeteksi di tahun 2024.

Hal ini dilakukan melalui pembenahan upaya surveilans. “dari (perhitungan) 824 ribu penderita TBC, saya minta di 2024 sebanyak 90 persen harus sudah terdeteksi by name by adress. Kita sekarang ingin strategi surveilansnya yang baik dan benar,” ujar Menkes Budi dalam Sehat Negeriku laman resmi Kemenkes, Sabtu (10/9/2022)

Untuk mewujudkan hal itu, pencegahan dan pengobatan harus cepat mengetahui jenis varian bakteri TBC yang menyerang seseorang. Menurut Budi bisa dilakukan dengan alat genome sequencing yang terus dikembangkan.

Dalam waktu dekat dilaksanakan pilot project genome sequencing mobile, dimana saat ini sudah tersedia genome sequencing baru seukuran handphone. Sehingga pendeteksian varian bakteri bisa dilakukan dengan cepat, dan pasien bisa segera diberi obat yang tepat.

1
2