Share

Gawat! Covid-19 Kembali Menggila, Capai 7.893 Kasus Harian

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 16 November 2022 09:06 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (foto: Istimewa)

KASUS Covid-19 terus menanjak naik. Per Selasa (15/11/2022) tercatat ada 7.893 kasus harian. Ini adalah angka tertinggi dalam kurun waktu delapan bulan ke belakang.

Sebelumnya kasus harian masih berada di kisaran angka 5 ribu kasus. Tak hanya kasus positif harian, kasus kematian pun juga terus bertambah. Per Selasa (15/11/2022) terjadi penambahan sebanyak 41 jiwa.

Kasus kematian bahkan sempat mencapai angka 54 kasus pada Sein (14/11/2022). Saat ini diketahui ada sekitar 53.774 kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

Kasus Covid-19 Kembali naik

Kenaikan kasus tersebut diduga karena munculnya subvarian Omicron baru XBB. Selain itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menganggap bahwa masyarakat Indonesia kesadarannya akan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menurun tajam dibandingkan dengan saat pandemi Covid-19 awal-awal.

Hal ini tentu tidak diinginkan, apalagi sekarang varian XBB mulai menggila. Ya, penularan varian ini antarorang dinilai sangat cepat, sekalipun gejala tidak parah.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengungkapkan, kesadaran masyarakat akan PHBS akan menurun apabila tidak ada sesuatu yang mengancam. Jadi, dengan penurunan eskalasi Covid-19, termasuk di dalamnya level PSBB yang turun, lalu dilonggarkannya beberapa aturan prokes, itu membuat sebagian dari masyarakat menganggap Covid-19 sudah sangat menurun dan bahkan dianggap selesai.

"Karena kondisi mengancam dianggap sudah tidak ada, akhirnya kepatuhan menjalankan prokes dan PHBS pun menurun," terang Imran beberapa waktu lalu.

Penurunan PHBS di sini meliputi, tidak memakai masker di tempat tertutup dan banyak orang, sudah mulai melupakan cuci tangan dengan sabun atau membersihkan tangan pakai hand sanitizer.

"Sikap itu terbentuk karena masyarakat menganggap ancaman sudah menurun, sehingga kewaspadaan ikut menurun yang pada akhirnya membuat perilaku PHBS pun menurun," jelasnya.

Imran menerangkan bahwa diperlukan riset atau penelitian antropologi yang tepat untuk menangani masalah kebiasaan PHBS ini. Menurutnya, bagaimana pun peran antropolog dalam masalah ini sangat diperlukan, khususnya antropolog kesehatan.

"PHBS itu besar kaitannya dengan urusan perilaku dan kebiasaan manusia. Ini ilmunya antropolog kesehatan. Jadi, sangat penting dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari jalan keluar dari PHBS yang menurun ini di tengah ancaman XBB," ungkap dia.

1
2