Share

Kurangi Beban Negara karena Penyakit Tidak Menular, PB IDI Genjot Skrining Deteksi Dini

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 15 November 2022 09:00 WIB
$detail['images_title']
skrining kesehatan sejak dini, (Foto: Freepik)

SAMA halnya dengan penyakit menular, contohnya infeksi Covid-19 yang begitu membebani negara. Penyakit Tidak Menular (PTM) pun juga menjadi salah satu beban dari sektor kesehatan untuk negara.

Dampak pada sektor finansial negara, dari masih tingginya kasus penyakit tidak menular di Indonesia adalah anggaran BPJS Kesehatan membengkak. Pada 2020 tercatat, uang yang harus digelontorkan untuk mengobati penyakit tidak menular di Indonesia mencapai angka fantastis, Rp17,5 triliun.

Maka dari itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mendorong semakin masifnya deteksi dini penyakit di masyarakat. Upaya pencegahan semacam ini, dinilai lebih penting demi kesehatan yang optimal di masa depan dan sekaligus meringankan beban negara.

Salah satu program PB IDI yang ditujukan untuk mengurangi beban negara akibat tingginya kasus penyakit tidak menular adalah memasifkan deteksi dini, coba diwujudkan lewat program 'Skrining Nasional Penyakit Tidak Menular' dibuat bekerja sama dengan aplikasi Doctor to Doctor (D2D).

Ketua Umum PB IDI, dr. Adib Khumaidi mengatakan inisiasi ini sesuai dengan prioritas kerja pemerintah pusat di bidang kesehatan, yang memfokuskan untuk upaya pencegahan. Sekaligus meningkatkan kompetensi dan literasi digital tenaga kesehatan di Indonesia.

"Sejalan dengan prioritas kerja pemerintah di bidang kesehatan, yang diarahkan pada peningkatan upaya promotif dan preventif,” tutur dr. Adib, dikutip dari keterangan resminya, Selasa (15/11/2022).

“Selain di samping peningkatan akses pada pemberian pelayanan kesehatan bagi masyarakat," tambahnya.

Melalui program ini, diharapkan bisa memberikan kemudahan untuk para dokter dalam melakukan pendataan hasil skrining nasional penyakit tidak menular dalam melayani masyarakat.

"Dengan begitu, semakin banyak masyarakat Indonesia yang terhindar dari berbagai faktor risiko penyakit atau melakukan pengobatan lebih awal," ungkap papar Head of Doctor Pillar PT Global Urban Esensial (GUE), Mohamad Salahudin.

Sebagai informasi, dokter yang terlibat pada program kegiatan skrining nasional penyakit tidak menular ini nantinya akan mendapatkan poin Satuan Kredit Profesi (SKP) dalam ranah pengabdian masyarakat. Selain itu, PB IDI dan D2D akan memberikan penghargaan kepada para dokter yang paling aktif dalam melakukan skrining dengan dilihat dari jumlah masyarakat yang telah diskrining.

 BACA JUGA: BPOM Temukan Cemaran EG Sampai 90%, Ini Tanggapan Ikatan Apoteker Indonesia

BACA JUGA:Daftar 11 Obat Lambung Cair yang Dilarang BPOM, Diduga Tercemar EG dan DEG

1
2