Share

Studi: Reinfeksi Covid-19 Lebih Berisiko daripada yang Pertama, Peluang Kematian hingga 2 Kali Lipat!

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 11 November 2022 17:30 WIB
$detail['images_title']
Pasien Covid-19, (Foto: Reuters/ Stoyan Nenov)

BANYAK orang di dunia, termasuk di Indonesia yang mengalami reinfeksi atau dengan kata lain, kembali terinfeksi Covid-19.

Ya, reinfeksi memang bisa dialami oleh setiap orang yang pernah positif Covid-19 sebelumnya. Ada yang jaraknya dekat antar infeksi satu ke infeksi kedua, ada pula yang jaraknya jauh satu sama lain.

Terkait reinfeksi Covid-19, diungkap melalui studi penelitian terbaru, disebut jika reinfeksi Covid-19 lebih berisiko pada masalah kesehatan serius dibandingkan infeksi Covid-19 yang pertama kali.

Dalam studi yang diterbitkan Kamis 10 November 2022 tersebut, dikatakan bahwa risiko kematian, keparakan hingga rawat inap, dan masalah kesehatan serius akibat Covid-19 melonjak secara signifikan dengan reinfeksi dibandingkan dengan serangan pertama dengan virus, terlepas dari apa pun status vaksinasinya.

"Reinfeksi Covid-19 meningkatkan risiko akut dan jangka panjang. Ini terbukti pada orang yang tidak divaksinasi, sudah divaksin, bahkan sudah mendapat vaksin booster,” ujar Dr. Ziyad Al-Aly dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, dikutip dari Reuters, Jumat (11/11/2022).

Temuan diambil dari data Departemen Urusan Veteran (VA) Amerika Serikat yang dikumpulkan dari periode 1 Maret 2020 hingga 6 April 2022, melihat sebanyak 443.588 pasien yang satu kali terinfeksi Covid-19, lalu 40.947 pasien yang sudah dua kali atau lebih kena Covid-19 dan 5,3 juta orang yang tidak atau belum terinfeksi.

Dari penelitian yang menggunakan sebagian besar subjek penelitiannya adalah laki-laki tersebut, didapati bahwa pasien yang mengalami reinfeksi punya risiko kematian lebih dari dua kali lipat.

Tidak hanya itu, orang reinfeksi juga punya risiko rawat inap lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan mereka yang positif terinfeksi hanya sekali. Disebutkan lebih lanjut, pasien yang reinfeksi memiliki risiko tinggi untuk masalah paru-paru, jantung, darah, ginjal, diabetes, kesehatan mental, tulang dan otot, dan gangguan neurologis, menurut laporan yang diterbitkan di Nature Medicine tersebut.

Para peneliti mengatakan risiko kumulatif dan beban reinfeksi meningkat dengan jumlah infeksi, bahkan setelah memperhitungkan perbedaan antara varian Covid-19 seperti Delta, Omicron dan BA.

 BACA JUGA: Varian XBB Sebabkan Kenaikan Kasus, Wisma Atlet Diaktifkan Kembali?

BACA JUGA: 48% Varian XBB Berada di Batam, Menkes Budi: Lebih Dekat Singapura

Dr. Ziyad Al-Aly sebagai pemimpin studi menambahkan, ancaman risiko yang sama berlaku juga bahkan bagi penyintas Covid-19 yang sudah divaksinasi.

“Bahkan jika seseorang pernah terinfeksi sebelumnya dan divaksinasi, artinya mereka punya kekebalan ganda dari infeksi sebelumnya dan ditambah vaksin. Namun, tetap mereka masih rentan risiko serius setelah reinfeksi," terangnya.

Orang-orang dalam penelitian yang mengalami reinfeksi lebih dari tiga kali, dikatakan lebih lanjut jadai lebih berisiko untuk mengalami masalah di paru-parunya, 3 kali lebih berpeluang untuk menderita kondisi jantung dan 60 persen lebih mungkin untuk mengalami gangguan neurologis dibandingkan pasien yang reinfeksi hanya sekali.

Selain itu, para peneliti juga menemukan risiko yang lebih tinggi paling menonjol pada bulan pertama setelah infeksi ulang ini tetap masih terlihat enam bulan kemudian.

1
3