Share

Dokter Rubini, Pahlawan Nasional yang Merawat Kaum Wanita Korban Kekerasan Seksual Tentara Jepang

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 11 November 2022 14:25 WIB
$detail['images_title']
dr. Raden Rubini Natawisastra (Foto: Kementerian Kesehatan RI)

PADA Hari Pahlawan 2022, sosok dr. Raden Rubini Natawisastra masuk menjadi salah satu dari lima orang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo.

Sosok dr. Raden Rubini memang begitu pantas diberi titel sebagai pahlawan nasional. Sebab jasanya sebagai dokter keliling pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, sudah menolong begitu banyak jiwa.

Raden Rubini merupakan kelahiran Bandung 31 Agustus 1906, ia awalnya bertugas sebagai dokter di Jakarta. Namun pda tahun 1934, dr. Rubini dipindahkan ke Pontianak, Kalimantan Barat. Mengabdi sebagai dokter di daerah, sosok dr. Raden Rubini dikenal sebagai dokter yang rendah hati dan tanpa pamrih menolong masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai dokter, ia diketahui sering berkeliling mengunjungi desa-desa terpencil di Kalimantan Barat untuk memberikan pertolongan kepada masyarakat dengan berusaha menyejahterakan dan memberikan perlindungan terutama ibu dan anak. Termasuk yang paling krusial, menurunkan angka kematian ibu dan anak yang sering terjadi karena praktik dukun beranak.

Berjuang sebagai dokter keliling di daerah terpenci, dr. Rubini tak sendirian. Perjuangan dan usahanya didampingi sang istri, Amalia Rubini, yang tergabung dalam gerakan Palang Merah. Amalia juga disebutkan lebih lanjut, aktif berinteraksi dengan perkumpulan istri dokter di Pontianak untuk berbagi informasi dan keterampilan seputar pemberdayaan perempuan dan anak.

Salah satu jasa dr. Rubini yang sangat besar bagi bangsa ini ialah, pada masa penjajahan Jepang, dr. Rubini ikut merawat kaum perempuan yang menerima kekerasan seksual dari tentara Jepang. Hal ini semakin membulatkan tekadnya untuk melawan penindasan pemerintah Jepang.

Selanjutnya ia kemudian mulai mengadakan konsolidasi dengan para aktivis dan sejumlah tokoh pejuang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang, yang kala itu direncakana untuk dilaksanakan pada Desember 1943. Namun sayangnya, rencana aksi ini diketahui pemerintah Jepang karena adanya sejumlah orang yang berkhianat sebagai mata-mata Jepang.

Imbasnya, dr. Rubini bersama istri dan sejumlah tokoh yang dianggap terlibat rencana aksi tersebut diciduk oleh Jepang dan dibantai secara sadis pada 28 Juni 1944 di daerah Mandor. Peristiwa pembantaian ini dikenal sebagai Tragedi Mandor.

Sebagai bentuk menghargai jasa dan dedikasi dr.Rubini kepada bangsa dan negara, nama beliau kini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Daerah Kabupaten Mempawah di Kalimantan Barat. Tidak hanya itu, nama dr. Rubini juga diabadikan pula menjadi nama jalan di Mempawah, kota Pontianak, dan Kota Bandung. Demikian sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Jumat (11/11/2022).

1
2