Share

Perlukah Label BPA di Galon Guna Ulang? Ini Kata Para Pakar Kesehatan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 11 November 2022 12:05 WIB
$detail['images_title']
AMDK, (Foto: The Independent)

BEBERAPA waktu lalu sempat ramai jadi perbincangan di masyarakat terkait rencana pelabelan Bisfenol A BPA di air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang.

Wacana ini dikaitkan dengan risiko cemaran plastik, yang memunculkan peluang terjadinya masalah kesehatan jika terpapar dalam waktu panjang. Lantas apakah memang sejatinya label BPA ini benar-benar perlu ada di galon guna ulang?

Menurut Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra pelabelan BPA belum berdasarkan pada evidence base,yang mana itu menjadi tolak ukur tindakan berbasis untuk kesehatan masyarakat.

"BPA ini, dari kasus konsumsi, kami belum melihat evidence base atau fenomena dan fakta yang cukup dan berdampak luas di masyarakat," ungkap Hermawan di acara Polemik Spesial MNC Trijaya FM bertajuk 'Urgensi Pelabelan BPA Galon Guna Ulang', Kamis (10/11/2022).

"Apabila ada isu zat ini berbahaya khususnya di pangan, maka kontrolnya ada di produksi dan di distribusi bukan di labelnya. Ini tidak bisa coba-coba," tegasnya.

Pemberian label, dinilai menjadi tak efektif. Sebab unsur pelabelan masuk ke dalam kendali perilaku, bukan pada substansi yang seharusnya sudah dikendalikan pada saat proses produksi.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo menyampaikan bahwa tugas utama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah mengawasi, namun ketika harus menyusun kebijakan, BPOM juga harus benar-benar melihat apakah ini akan menimbulkan keributan atau tidak.

"Hal ini bisa dilakukan dengan sosialisasi, duduk bersama dengan stakeholder dan edukasi," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Rizal Edy Halim mengimbau sejatinya BPOM bukan tidak hanya melabeli satu jenis kemasan plastik. Tetapi langkah yang sama, harus dilakukan terhadap semua kemasan.

"Jika BPOM ingin mewacanakan pelabelan, ya semua harus dilabeli, baik kemasan berbahan Polikarbonat mau pun polyethylene terephthalate (PET). Sebab semua plastik itu sama-sama berbahaya bagi kesehatan," ujarnya.

Pertanyaannya kan ada isu lingkungan juga kalau kita hanya memakai yang sekali pakai itu. Aktivis lingkungan akan bereaksi, karena akan terjadi penimbunan sampah yang lebih banyak," tambah Rizal Edi.

Pada diskusi tersebut, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan FATETA dan Peneliti Senior SEAFAST IPB Prof Purwiyatno Hariyadi memandang upaya pelabelan ini masih belum jelas tujuannya untuk apa. Mengingat, sebenarnya sudah ada aturan-aturan yang mengatur tentang pengendalian risiko dari senyawa kimia yang digunakan pada kemasan pangan yaitu ada di Peraturan BPOM 20/2019.

Kalau memang sudah melewati ambang batas, ditarik langsung tidak perlu dilabeli. PP Pangan yang ada, sudah menyatakan bahwa semua regulasi yang dikeluarkan oleh otoritas pengawasan pangan harus melakukan kajian risiko. Inilah yang disebut Prof Purwiyatno yang harus dikomunikasikan.

Senada dengan Prof Purwiyatno, Pakar Polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmad Zainal Abidin, menyampaikan ia merasa labelisasi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Galon Guna Ulang (GGU) tidak perlu lagi karena sebenarnya Peraturan BPOM 20/2019 saja sudah cukup dan produk yang diedarkan juga sudah disertifikasi oleh BPOM.

Migrasi BPA dari galon guna ulang ke produk air di dalamnya itu, sambung Zainal, masih seperseratus dari kadar maksimum yang diizinkan, termasuk sampel galon yang terjemur sinar matahari.

“ Meski memang ditemukan adanya kandungan migrasi yang lebih tinggi dari yang ditempatkan di tempat yang tidak terkena matahari, namun kadarnya juga masih jauh di bawah batas maksimum yang diizinkan,” tutur Zainal.

Dari sisi ilmiah, kata Zainal, semua zat kimia itu pasti berbahaya. Tidak hanya BPA, zat-zat prekursor yang digunakan untuk membuat botol atau galon plastik PET atau sekali pakai juga sama-sama ada bahayanya.

Contohnya, Etilen Glikol yang menjadi salah satu prekursor yang dipakai untuk membuat botol atau galon plastik PET atau sekali pakai itu disebut Zainal sangat beracun dan bisa menyerang sistem saraf pusat, jantung, dan ginjal serta dapat bersifat fatal jika tidak segera ditangani.

 BACA JUGA:Duh! Hampir 70 Persen Sumber Air Minum Masyarakat Indonesia Tercemar Limbah Tinja

BACA JUGA:Menkes Budi Tak Bosan-Bosan Ingatkan Lansia untuk Booster Covid-19

1
3