Share

Bagaimana Pengobatan Skizofrenia Seperti yang Diidap Aaron Carter?

Kiki Oktaliani, Jurnalis · Selasa 08 November 2022 13:34 WIB
$detail['images_title']
Aaron Carter semasa hidup (Foto: US magazine)

PENYANYI asal Amerika Serikat, Aaron Carter ditemukan meninggal dunia di dalam bathub kamar mandi rumahnya. Ia ditemukan sudah tenggelam di dalam bathup kamar mandi rumahnya di California, Amerika Serikat.

Sebelum meninggal, adik dari penyanyi Nick Carter ini diketahui sempat menjadi pecandu narkoba. Selain itu, melalui tayangan acara The Doctors pada 2019 lalu, Aaron menyebut dirinya didiagnosa mengidap multiple personality disorder. Salah satunya Skizofrenia.

 Aaron Carter

Skizofrenia melibatkan berbagai masalah dengan pemikiran (kognisi), perilaku dan emosi. Pada pria, gejala skizofrenia biasanya dimulai pada awal hingga pertengahan 20-an.

Lalu bagaimana pengobatan skizofrenia?

Meskipun tidak ada obat untuk skizofrenia, banyak pasien sembuh dengan gejala minimal. Berbagai obat antipsikotik efektif dalam mengurangi gejala psikotik yang ada pada fase akut penyakit, hal tersebut juga membantu mengurangi potensi episode akut di masa depan sekaligus tingkat keparahannya.

Perawatan psikologis seperti terapi perilaku kognitif atau psikoterapi suportif dapat mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi, dan perawatan lain ditujukan untuk mengurangi stres, mendukung pekerjaan, atau meningkatkan keterampilan sosial.

Diagnosis dan pengobatan dapat diperumit jika seseorang melakukan penyalahgunaan zat sseperti narkoba. Orang dengan skizofrenia memiliki risiko lebih besar untuk menyalahgunakan obat-obatan daripada populasi umum.

 BACA JUGA:Mengenal Gejala dan Penyebab Skizofrenia, Penyakit yang Diidap Aaron Carter

Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda kecanduan, pengobatan untuk kecanduan harus dilakukan bersamaan dengan pengobatan untuk skizofrenia.

Selain itu juga seseorang dengan Skizofrenia dapat melakukan pengobatan dalam bentuk Terapi Elektrokonvulsif yaitu metode yang paling efektif untuk meredakan keinginan bunuh diri, mengatasi gejala depresi berat, dan menangani psikosis.

Terapi dilakukan 2-3 kali dalam seminggu selama 2-4 minggu, serta dapat dikombinasikan dengan psikoterapi dan pemberian obat.

1
2