Share

Kisah Perjuangan Tenaga Medis untuk Melakukan Vaksinasi Covid-19 ke Suku Kajang

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Senin 07 November 2022 21:52 WIB
$detail['images_title']
Vaksinasi Covid-19 ke suku kajang (Foto: ist)

DOSEN Fakultas Kehutanan Universitas Hassanudin Asar Said Mahbub, yang meneliti masyarakat adat Kajang menjelaskan, guna melakukan vaksinasi Covid-19 perlu menggandeng ketua adat atau pun pemangku adat. Sebab mereka merupakan salah satu kunci utama vaksinasi.

Suku Kajang ini mengharuskan orang-orang Kajang memakai pakaian berwarna hitam (baju le’leng), itu pun memiliki falsafah tersendiri. Menurut adat, hitam adalah warna yang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kesetaraan. Mereka tinggal di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Sulawesi Selatan.

 suku kajang

Dengan memakai warna hitam, seluruh orang Kajang dianggap setara dan tak boleh diberi perlakuan yang berbeda. Pakaian hitam juga dimaksudkan agar pemakainya selalu ingat kematian.

Muksin, tenaga kesehatan di Puskesmas Kajang yang menjadi petugas vaksinasi untuk Suku Kajang menjelaskan, perlu menggandeng ketua adat untuk vaksinasi Covid-19. “Itulah yang harus kami lakukan kalau mau program vaksinasi berjalan sukses,” katanya.

"Hanya dengan begitu masyarakat Suku Kajang mudah tergerak untuk menerima,” kata Muksin.

Hal ini pun dibenarkan Ibu Hera, tenaga kesehatan Kabupaten Bulukumba. Pasalnya, selain memegang erat nilai adat, pola hidup Suku Kajang pun bercirikan patron-klien, sehingga apa pun yang dikatakan dan dilakukan tetua adat akan dilakukan warga.

Namun, meski dukungan dari Amma Toa sudah di kantong, penerimaan akan vaksinasi untuk Suku Kajang tidak lantas mudah dilakukan. Demikian menurut Pak Bolong, yang merupakan wakil Amma Toa (setingkat menteri di tatanan adat).

“Saya sampaikan kepada warga, program vaksinasi pemerintah pasti memiliki tujuan yang baik untuk keselamatan rakyatnya. Apa pun program yang dilaksanakan pemerintah, tidak akan mencelakakan rakyat, tujuannya baik,” kata Pak Bolong kepada warga suku Kajang.

Ia juga menegaskan, “vaksinasi penting sebagai usaha menghalangi penyakit yang tengah menggejala, Covid-19. Vaksinasi dilakukan untuk membuat masyarakat tidak gampang tertular penyakit.”

 BACA JUGA:Vaksin Indovac Khusus Booster Sudah Kantongi Izin BPOM

Pak Bolong sendiri sudah menjalani tiga kali vaksinasi, termasuk sekali vaksin booster. “Saya sehat-sehat saja, itu membuat mereka berani,” tambahnya.

Tiga jam perjalanan jalan kaki itu tentu saja tidak dijalani dengan mulus. Para petugas kesehatan dari Puskesmas Kajang dan Kabupaten Bulukumba itu harus menembus Hutan Karamaka yang dikeramatkan, serta Hutan Batasayya, selain Hutan Laura yang menjadi hak warga untuk dikelola. Alhasil, karena hutan seluas 332 hektare itu sebagian masih perawan, tim kesehatan pun tak jarang harus berjuang ekstra.

Dan benar kata orang Barat, no pain no gain. Segala kesulitan itu pun berbuah manis. Tanpa melalui strategi khusus, hanya mendatangi warga dari pintu ke pintu, dibantu warga yang membentuk tim-tim kesehatan terdiri dari 4-5 orang, plus pemuka adat dan aparat untuk pengamanan, vaksinasi pun berjalan lancar. Warga enam desa, yakni lima desa Kajang ‘luar’ dan satu desa Kajang ‘dalam’ pun tervaksinasi.

“Dosis vaksinasi 1 mencapai sekitar 81 persen target. Vaksinasi tahap dua baru 50 persen. Yang ketiga yang masih tergolong rendah, baru 10 persen,” kata Muksin.

Soal dosis ketiga ini tersebar kabar bahwa warga sudah merasa cukup dengan dua kali vaksinasi. Sementara ini warga banyak yang belum memahami bahwa vaksinasi booster adalah merupakan vaksinasi lanjutan yang juga harus diambil. “Ini tantangan tersendiri. Kami akan kembali lebih mengefektifkan gerakan ‘door to door’”, kata Pak Bolong.

Hal yang harus juga dipecahkan adalah formulasi waktu, karena masyarakat Kajang adalah masyarakat yang cukup sibuk berladang atau berburu. Mereka sering tidak berada di rumah pada saat-saat tertentu.

1
2