Share

Apa Benar Penyakit Kronis Itu Turunan?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Kamis 03 November 2022 18:10 WIB
$detail['images_title']
Penyakit kronis (Foto: Jay feldman wellness)

PENTING untuk sering melakukan pengecekan kesehatan atau biasa disebut dengan medical chekup. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah kita memiliki penyakit akut atau mungkin penyakit kronis.

Penyakit kronis merupakan kondisi yang bertahan lebih lama, seperti tahunan. Namun pemahaman masyarakat secara umum terkait penyakit kronis belum memadai.

 penyakit kronis

Lalu, apakah penyakit kronis turunan atau bukan?

Menurut dr Endemina Dokter Spesialis Penyakit Dalam, penyakit kronis yang timbul memiliki dua faktor risiko. Pertama faktor genetik (tidak bisa diubah) atau keturunan, dan kedua faktor bukan genetik (bisa diubah).

"Jadi kita lihat dulu, ada namanya faktor risiko yang bisa diubah dan tidak bisa diubah. Kalau tidak bisa diubah yaitu faktor genetik, kemudian usia dan jenis kelamin," ungkap dr Endemina Theresia Sp.Pd-Finasim, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSHB.

Pada faktor kedua yaitu bisa diubah, dr Endemina mengatakan, penyakit kronis jauh lebih mudah diatasi. Bila dibandingkan yang merupakan bawaan genetik.

Namun keduanya (genetik dan bukan) sama-sama bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup sehat. Penyakit kronis yang dijelaskan dr Endemina adalah hipertensi, diabetes dan kolesterol, dan sebagainya.

 BACA JUGA:Suka Tidur Kurang dari 5 Jam Sehari? Waspada Risiko Penyakit Kronis Naik hingga 30 Persen!

"Kalau bisa diubah yaitu kadar gula dan garam yang terlalu tinggi bisa menyebabkan hipertensi, kurangnya aktivitas fisik, dan stres jadi kita lihat faktor risiko yang ada dan kita bisa ubah," sambungnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara untuk datanya, fakta usia 18 tahun ke atas diketahui mencapai 20% sudah mengalami penyakit kronis. Namun dr Endemina mengatakan, usia 40-50 tahun lebih mendominasi kasus karena dampak dari pola hidup saat usia muda.

"Kalau untuk itu tidak terlalu banyak sekitar 20% untuk usia di atas 18 tahun, yang banyak itu pada usia 40-50 tahun," jelas dr Endemina.

"Kalau usia 30 tidak terlalu banyak karena saya bilang apa yang kita lakukan di usia muda baru, akan muncul di usia lanjut kecuali faktor genetiknya kuat," ucapnya.

1
2