Share

BPOM Pastikan Obat Cair Tercemar Produksi PT Yarindo dan PT Universal Tak Beredar Lagi

Syifa Fauziah, Jurnalis · Selasa 01 November 2022 20:15 WIB
$detail['images_title']
Kepala BPOM RI, Penny Lukito (Foto: Tangkapan layar)

DUA industri farmasi, PT Yarindo Farmatama (PT Yarindo) dan PT Universal Pharmaceutical Industries (PT Universal) dinyatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah terbukti mengubah pemasok Bahan Baku Obat (BBO) dalam produksi obat sirop. 

Tidak hanya itu, keduanya juga menggunakan BBO yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan cemaran EG pada bahan baku melebihi ambang batas aman yaitu tidak lebih dari 0,1 persen.

Berdasarkan temuan ketidaksesuaian terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, dua perusahaan tersebut diberikan sanksi administratif. Mulai dari penghentian produksi, distribusi, penarikan kembali (recall) dan pemusnahan produk.

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengatakan BPOM melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia akan non-stop mengawal proses penarikan dari peredaran obat sirop dengan cemaran EG dan DEG melebihi ambang batas aman tersebut.

"Penarikan mencakup seluruh outlet antara lain Pedagang Besar Farmasi, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, Toko Obat, sampai praktik mandiri tenaga kesehatan," bunyi pernyataan resmi Penny, dikutip Selasa (1/11/2022).

Selain melakukan pemeriksaan ke sarana produksi, BPOM juga melakukan pengawasan secara daring berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 8 tahun 2020 tentang Pengawasan Obat dan Makanan yang Diedarkan secara Daring sebagaimana telah diubah dengan Peraturan BPOM Nomor 32 Tahun 2020.

Selain itu, BPOM juga menggelar patroli siber (cyber patrol) pada platform situs, media sosial, dan e-commerce untuk menelusuri penjualan produk yang dinyatakan tidak aman.

Follow Berita Okezone di Google News

Sampai dengan 26 Oktober lalu, BPOM diketahui sudah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) untuk melakukan penurunan (takedown) konten terhadap 6001 link yang teridentifikasi melakukan penjualan sirup obat yang telah dinyatakan tidak aman.

Pada kesempatan yang sama, Penny mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan jadi konsumen cerdas, dan membiasakan diri untuk mendapatkan obat melalui sarana resmi, yaitu di apotek, toko obat berizin, puskesmas atau rumah sakit terdekat.

"Masyarakat juga diharapkan selalu menerapkan Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa) sebelum membeli atau menggunakan obat,” sarannya.

Jika pun membeli obat secara online hanya dilakukan di apotek yang telah memiliki izin Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi (PSEF).

“Pastikan kemasan produk dalam kondisi baik, baca informasi produk yang tertera pada label, dan produk telah memiliki izin edar BPOM serta belum melebihi masa kadaluarsa," tandas Penny.

 BACA JUGA:Terbukti Produksi Obat Sirup Tercemar, BPOM Cabut Izin Produksi PT Yarindo dan PT Universal

BACA JUGA:BPOM: PT Yarindo Farmatama dan PT Universal Pharmaceutical Industries Pakai Pelarut Mengandung Cemaran EG

1
2