Share

Antisipasi Lonjakan Kasus Gangguan Ginjal Akut, Ahli Kesehatan: Fomepizole Wajib Ada di 14 RS Rujukan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 31 Oktober 2022 09:40 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi vial obat, (Foto: Freepik)

BARU-baru ini Indonesia telah kedatangan sebanyak 200 vial obat Fomepizole, sebagai bentuk donasi dari Jepang.

Kementerian Kesehatan, melalui Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menilai obat yang diberikan kepada pasien dengan cara disuntikkan tersebut efektif sebagai pengobatan alias treatment terhadap para pasien gangguan ginjal akut.

Dalam distribusinya, merujuk pada keterangan Juru Bicara Kemenkes RI, dr. Mohammad Syahril kala itu, pemerintah saat ini memang memprioritaskan obat Fomepizole untuk didistribusikan ke rumah sakit rujukan gangguan ginjal akut.

Terkait distribusi obat, dikatakan Peneliti dan Ketahanan Kesehatan Global dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, sebaik-baiknya sebanyak 14 rumah sakit rujukan semua harus mendapatkan pasokan obat Fomepizole,

"Stok obat Fomepizole ini kan sangat terbatas, tapi kebutuhan harus ada di 14 rumah sakit rujukan,” terang Dicky Budiman ketika dihubungi MNC Portal, Senin (31/10/2022).

Namun dengan kurasi, diberikan kepada rumah sakit yang memang lebih banyak merawat pasien gangguan ginjal akut tersebut.

“Menurut saya, obat harus dialokasikan ke rumah sakit yang lebih banyak kasusnya, disesuaikan kebutuhan," terang Dicky Budiman pada MNC Portal, Senin (31/10/2022).

Follow Berita Okezone di Google News

Sebagai contoh, jika di RSCM sebanyak 10 pasien yang masih dirawat intensif, maka 10 vial perlu didistribusikan ke rumah sakit ini.

"Nah, sisanya didistribusikan secara merata ke rumah sakit rujukan lainnya. Sesuai dengan kebutuhan. Jadi, ketersediaan obat juga harus fleksibel, dipengaruhi salah satunya oleh faktor kenaikan jumlah kasus di rumah sakit rujukan," tambahnya.

Dicky melanjutkan, menurut informasi yang diterimanya, selanjutnya masih akan datang lagi obat Fomepizole dari Amerika Serikat. Namun ia belum mengetahui, berapa vial yang akan masuk.

Ia menekankan sekali lagi, diharapkan sekali Kemenkes bisa mendistribusikan obat penawar tersebut secara merata. Salah satunya juga dengan menimbang faktor risiko, adanya peluang terjadinya penambahan jumlah kasus ke depannya.

"Potensi penambahan jumlah kasus masih ada , karena kita tidak tahu di daerah itu datanya tercover atau tidak secara real time oleh Kemenkes. Sehingga, menyediakan obat dalam jumlah tertentu dibutuhkan sebagai langkah antisipasi (jika ada penambahan jumlah kasus), " tandas Dicky.

 BACA JUGA:Menkes Sebut Kasus Gangguan Ginjal Akut Turun Drastis, Pakar Kesehatan Pertanyakan Soal Data?

BACA JUGA:Benarkah Fomepizole Efektif Obati Pasien Gangguan Ginjal Akut? Ini kata Kemenkes!

1
2