Share

Kenali Henti Jantung Mendadak, Salah Satu Gejalanya Sesak Napas

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Sabtu 22 Oktober 2022 07:46 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Henti Jantung (Foto: Shutterstock)

HENTI jantung mendadak atau serangan jantung tiba-tiba termasuk kondisi darurat yang wajib diwaspadai. Kondisi ini dapat berakibat fatal dalam hitungan menit jika tak segera diberi pertolongan.

Kondisi ini terjadi lantaran kekurangan oksigen yang dipengaruhi adanya masalah kelistrikan pada jantung. Lantas, apa pengertian henti jantung mendadak? Bagaimana gejala, penyebab, faktor risiko, dan pencegahannya? Untuk memahaminya, simak rangkuman okezone, berikut ini.

Melansir dari Cleveland Clinic, serangan jantung mendadak adalah kondisi yang dapat mengancam jiwa di mana jantung tiba-tiba berhenti. Kondisi tersebut membuat jantung tidak lagi memompa darah.

Jantung

Dalam beberapa menit, kondisi ini menempatkan organ dan seluruh tubuh pada risiko kematian. Penderita harus terus-menerus menerima oksigen, dan darah memberikan oksigen itu.

Perawatan darurat seperti resusitasi jantung paru (RJP) dan defibrilasi bisa diberikan. CPR menyimpan cukup oksigen di paru-paru dan membawanya ke otak sampai sengatan listrik mengembalikan ritme jantung yang normal. CPR dan defibrilator dapat menyelamatkan hidup penderita.

Follow Berita Okezone di Google News

Melansir dari Mayo Clinic, gejala henti jantung mendadak meliputi:

-Kolaps tiba-tiba

-Tidak ada pulsa

-Tidak bernafas

-Penurunan kesadaran

-Ketidaknyamanan area dada

-Sesak napas

-Mengalami kelemahan

-Jantung berdebar cepat atau palpitasi

 Melansir dari Cleveland Clinic, irama jantung abnormal atau aritmia menyebabkan sebagian besar serangan jantung mendadak. Aritmia yang paling umum mengancam jiwa adalah fibrilasi ventrikel.

Kondisi ini terjadi lantaran penembakan impuls yang tidak menentu dan tidak teratur dari ventrikel jantung (ruang bawah). Saat kondisi ini terjadi, jantung tidak dapat memompa darah.

Namun, ada beberapa penyebab serangan jantung mendadak lainnya termasuk:

-Penyakit jantung koroner.

-Kondisi jantung bawaan.

-Perubahan struktur jantung lantaran penyakit atau infeksi.

-Aktivitas fisik ekstrem atau kehilangan darah.

Adapun, seseorang dapat mengurangi risiko serangan jantung mendadak dengan melakukan pemeriksaan rutin, skrining penyakit jantung, dan menjalani gaya hidup sehat.

Demikian pemahaman terkait henti jantung mendadak atau serangan jantung mendadak yang tak banyak orang tahu. Sebisa mungkin menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat agar terhindar dari kondisi ini.

 (RIN)

1
3