Share

Duh! Per 3 Detik Ada Kasus Patah Tulang karena Osteoporosis

Syifa Fauziah, Jurnalis · Jum'at 21 Oktober 2022 10:15 WIB
$detail['images_title']
kesehatan tulang, (Foto: Freepik)

HARI Osteoporosis sedunia dan juga nasional diperingati pada 20 Oktober setiap tahunnya, menjadi momentum pentingnya memelihara kesehatan tulang sejak dini.

Pasalnya, osteoporosis sejatinya memang tak boleh dipandang sebelah mata. Data menyebutkan setidaknya 19,7 persen dari seluruh masyarakat Indonesia mengidap osteoporosis, dengan rasio 1 dibanding 3 wanita dan 1 di antara 5 pria di atas usia 50 tahun mengalami osteoporosis.

Ironisnya, diungkap Sekretaris Jenderal Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), dr. Lily Indriani Octavia M.Gizi SpGK(K), per setiap tiga detik terjadi satu kasus patah tulang dan osteoporosis lah yang menjadi penyebab dari sekitar 8,9 juta kasus patah tulang setiap tahunnya di Indonesia.

"Dua dari lima orang Indonesia berisiko terkena osteoporosis, berisiko mengalami patah tulang akibat pengeroposan tulang," jelas dr. Lily, dalam gelaran konferensi pers 20 Tahun Anlene Lawan Osteoporosis, baru-baru ini.

Seperti halnya diabetes, osteoporosis juga dikenal sebagai ‘silent disease’ karena kerap tidak diketahui gejala pastinya. Bahkan, pengidapnya terkadang tidak tahu kalau sudah terjadi pengeroposan pada tulang, terutama di tulang belakang dan tulang panggulnya.

“Jadi misalnya seseorang jatuh ringan terus alami patah tulang, itu sudah pasti osteoporosis. Karena tulangnya rapuh jadi gampang patah,” jelas dr. Lily

Follow Berita Okezone di Google News

“Lalu ketika patah tulang tentu rasanya sangat nyeri, disabilitas, deformitas, hingga menyebabkan kematian,” lanjutnya.

Dijelaskan lebih lanjut, biasanya patah tulang akibat osteoporosis ini tidaklah mudah jika dibandingkan orang yang mengalami patah tulang karena trauma. Hal ini disebabkan karena tulang sudah rapuh, yang membuat tulang sudah tak bisa disambung.

Penanganan patah tulang osteoporosis, salah satunya dilakukan dengan cara menariknya agar kembali menyambung atau dengan operasi mengganti tulang panggul.

“Jadi ketika mengalami kondisi ini mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Harapan hidupnya pun menurun,” tandas dr. Lily

 BACA JUGA:Begini Cara Tangani Tulang Leher Bergeser, Seperti yang Dialami Lesti Kejora

BACA JUGA:Heboh 5 Obat Sirup Mengandung Etilen Glikol, Catat 4 Imbauan BPOM untuk Masyarakat!

Nah, sebagai upaya pencegahan terkenan osteoporosis, Anda sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) atau kepadatan mineral tulang untuk memastikan osteoporosis.

Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sejak usia 20 hingga 30 tahun, dengan frekuensi paling tidak enam bulan sekali atau satu tahun sekali.

1
2