Share

Mengenal Sindrom Imposter, Kondisi Psikologis Yang Dialami Supermodel Gigi Hadid

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Senin 17 Oktober 2022 11:59 WIB
$detail['images_title']
Gigi Hadid (Foto: Inst)

SUPERMODEL Gigi Hadid baru-baru ini mengungkapkan kerap merasa ‘insecure’ sejak menjadi pendiri merek kasmir barunya, yakni ‘Guest in Residence’.

Meskipun merupakan sosok terkenal dan seorang model besar, Gigi Hadid mengaku masih merasa rendah diri jika dibanding rekan-rekannya dalam hal menciptakan produk fashion.

 Gigi hadid

Dalam sebuah wawancara baru dengan editor fashion, Vogue Gabriella Karefa-Johnson di konferensi Forces in Fashion majalah di New York, Gigu Hadid berterus terang tentang rasa ‘insecure’ terhadap keterampilannya di bidang fesyen.

"Aku selalu menderita sindrom imposter," kata Gigi, dikutip dari laman Instyle.

Lantas, apa itu sindrom imposter?

Sindrom imposter atau sindrom penipu adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak pantas meraih kesuksesan yang dicapainya.

 BACA JUGA:Potret Gigi Hadid Tampil Memukau di Milan Fashion Week, Ditonton Mantan Leonardo DiCaprio!

Kondisi ini punya banyak nama lain, di antaranya adalah impostor syndrome, sindrom penipu, atau dalam bahasa Inggrisnya fraud syndrome. Imposter syndrome pertama kali dikenal pada tahun 1970-an oleh psikolog Pauline Clance dan rekannya Suzzanne Imes.

Follow Berita Okezone di Google News

Penderita sindrom ini kerap merasa waswas, seolah suatu hari orang-orang akan menganggap dirinya hanyalah seorang penipu yang tidak berhak mengakui segala prestasi dan keberhasilannya.

Dengan kata lain, penderita yang mengalami imposter syndrome biasanya merasa bahwa dirinya tidak secerdas, sekreatif, atau berbakat seperti yang terlihat dan diketahui orang lain. Dia justru merasa setiap pencapaian yang diraihnya hanya disebabkan oleh kebetulan atau keberuntungan semata.

Ketakutan akan ketidakmampuan ini bisa menimbulkan masalah mental pada pengidap imposter syndrome. Mereka mungkin rentan merasa gelisah, depresi, frustasi, kurang percaya diri dan malu. Namun, sejauh ini para ahli tidak menganggap sindrom penipu sebagai kondisi kesehatan mental.

1
2