Share

Fenomena Tes Antigen Covid-19 Mandiri, Picu Data Angka Kasus Positif yang Tidak Real??

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 06 Oktober 2022 13:00 WIB
$detail['images_title']
Self-test Covid, (Foto: Freepik)

SAAT ini sudah banyak masyarakat yang memilih untuk mengandalkan self-test Covid-19, memakai alat rapid test Antigen yang tersedia di pasaran, alih-alih swab di rumah sakit, klinik atau fasilitas kesehatan lainnya.

Pilihan untuk melakukan tes mandiri Covid-19 ini, semakin jadi pilihan banyak orang apalagi jika bergejala ringan. Fenomena seperti ini, disebut Ahli Mikrobiologi UI, Prof. Amin Soebandrio, memiliki sisi positif dan negatif.

Jika dilihat secara positif, artinya awareness kesadaran masyaraat untuk melakukan deteksi dini cenderung semakin tinggi. Namun, di sisi lain negatifnya adalah hasil self-test ini tidak dilaporkan ke pemerintah.

"Itu kenapa, benar adanya anggapan bahwa penurunan angka kasus Covid-19, karena banyak juga dari orang-orang yang tes Covid-19 tapi tidak melaporkan hasilnya. Seperti yang dilakukan orang-orang yang tes mandiri," papar Prof Amin dalam gelaran talkshow daring, baru-baru ini.

Padahal, kata Prof Amin, pelaporan hasil tes Covid-19 sangat penting dalam mengetahui secara tepat bagaimana sebetulnya situasi pandemi Covid-19 saat ini di masyarakat.

Lantas, jika tidak semua hasil tes Covid-19 dilaporkan, apakah data positivity rate Covid-19 yang ada artinya tidak real? Sebagaimana disebut Prof. Asri C. Adisasmita, Ahli Kesehatan Masyarakat UI, memang tak ditampik ada kemungkinan data positivity rate Covid-19 underestimated alias tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.

"Dengan tidak melaporkan hasil self-test yang positif, ini menyebabkan hasil perhitungan positivity rate underestimated atau bukan angka sesungguhnya,” jelas Prof. Asri

“Begitu pun pada mereka yang bergejala, mungkin positif Covid-19, tapi dia tidak mau sama sekali tes. Ini jadi membuat data positivity rate underestimated," lanjutnya.

Namun, Prof Asri menegaskan perlu diingat bahwa data yang dihimpun pemerintah tetap bisa merepresentasikan kondisi pandemi Covid-19 saat ini

“Sebab, data yang tidak dilaporkan dengan alasan karena tes sendiri atau tidak tes sama sekali itu terjadi secara acak dan karena itu tetap mewakili apa yang ada di masyarakat untuk gejala klinisnya. Bukan poisitity ratenya," pungkasnya.

 BACA JUGA:Vaksinasi Covid-19 Berpeluang akan Rutin Setahun Sekali?

BACA JUGA:Alami Demam dan Flu Saat Kasus Covid-19 Sudah Melandai? Ahli Kesehatan: Tetap Harus Tes Swab!

1
2