Share

Tidak Obesitas Tapi Tetap Diet, Apa Bahayanya?

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Rabu 05 Oktober 2022 15:31 WIB
$detail['images_title']
Tidak obesitas tapi terus diet (Foto: Management of obesity)

SAAT ini banyak perempuan yang ingin selalu tampak langsing, padahal sebenarnya ia sudah kurus dan jauh dari kata obesitas.

Selain itu banyak orang yang belum memahami, bahwa diet belum tentu boleh dilakukan oleh semua orang. Contohnya orang yang sebelum berdiet, secara alami sudah mempunyai tubuh cenderung kurus.

diet

Dari studi penelitian dilakukan oleh Universitas Harvard belum lama ini, menemukan bahwa orang yang sudah kurus namun tetap nekat melakukan diet, memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dalam kurun waktu 10 tahun kemudian, dikutip dari New York Post.

Para peneliti melakukan penelitian dengan mengumpulkan data dari 200.000 orang Amerika yang sehat. Dari total populasi tersebut, 90 persennya adalah perempuan dan kemudian peserta dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan indeks massa tubuh: sehat atau kurus, kelebihan berat badan dan obesitas.

Kemudian dibagi lagi menjadi dua kelompok, kelompok yang kehilangan 9,9 pound (setara dengan 4,08 kilogram selama empat tahun dan mereka yang tidak. Setiap kelompok dibagi lagi dalam tujuh sub kelompok yang melakukan diet berdasarkan pilihannya sendiri, contohnya diet rendah kalori, olahraga, diet rendah kalori plus olahraga, puasa, program penurunan berat badan komersial, pil diet dan kombinasi puasa, komersial program dan pil diet.

Setelah mengamati catatan medis responden dari 10 tahun terakhir, peneliti menemukan bahwa orang kurus yang melakukan diet ekstrim mengalami penurunan berat badan antara 4,4 pound (1,81 kilogram dan 17 pound (7,71 kilogram) lebih banyak daripada yang lainnya, tetapi orang gemuk yang berpartisipasi dalam empat program diet (diet rendah kalori, olahraga, diet rendah kalori ditambah olahraga dan puasa) kehilangan berat tubuh antara 3,5 (sekitar 1 kilogram) dan 1,3 pon (sekitar 0,5 kilogram) lebih banyak daripada yang lainnya.

Ketika melihat risiko diabetes, justru peneliti menemukan bahwa orang kurus yang kehilangan berat badan dalam jumlah yang signifikan adalah 54 persen lebih mungkin untuk terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari, dan orang dewasa gemuk yang melakukan diet ketat lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami diabetes. Hasil ini bahkan membuat para peneliti cukup terkejut.

“Kami sedikit terkejut, ketika pertama kali melihat hubungan positif dari upaya penurunan berat badan dengan penambahan berat badan yang lebih cepat dan risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi di antara orang kurus,” kata Dr. Qi Sun, ahli epidemiologi di Harvard yang memimpin penelitian.

“Namun, kita sekarang tahu bahwa pengamatan semacam itu didukung oleh biologi yang sayangnya menimbulkan hasil kesehatan yang merugikan. Ketika orang kurus mencoba menurunkan berat badan dengan sengaja,” lanjutnya.

Hasil juga menunjukkan bahwa orang kurus yang menurunkan berat badan dengan mengikuti diet trendi atau program penurunan berat badan, malah meningkat berat badannya di masa mendatang. Hal ini kemungkinan karena penurunan berat badan menyebabkan perubahan biologis.

Para ilmuwan percaya bahwa orang kurus yang kehilangan banyak berat badan, memiliki tingkat hormon kelaparan yang lebih tinggi. Alhasil membuat orang-orang ini jadi lebih banyak mengonsumsi makanan cepat saji dan menyebabkan tubuhnya mengalami penumpukan lemak yang lebih banyak yang dapat meningkatkan kadar hormon.

Selain itu, peneliti juga menduga bahwa penurunan berat badan yang drastis menyebabkan tingkat hormon anoreksigenik yang lebih rendah yang menekan rasa lapar.

Para peneliti menyarankan bahwa diet sejatinya harus dilakukan hanya untuk mereka yang secara medis membutuhkannya, bukan untuk orang yang tubuhnya sudah kurus namun masih berharap untuk mencapai tubuh yang diinginkan hanya demi mengikuti yang disebut tren standar kecantikan.

1
2