Share

Peneliti Sebut Lakukan Gerakan Beri Jari Tengah Bisa Kurangi Rasa Sakit, Kok Bisa?

Astri Lawrensia, Jurnalis · Rabu 05 Oktober 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi, (Foto: Freepik)

KULTUR di Indonesia dan banyak negara lainnya, melakukan gerakan memberi jari tengah dianggap sebagai salah satu bentuk ketidaksopanan, tabu, dan terkesan sangat kasar, yang sering juga dikonotasikan sebagai simbol dari hal yang tidak baik.

Bahkan, dengan memberikan jari tengah mampu membuat seseorang merasa tersinggung, direndahkan, dan merasa terhina.

Namun terlepas dari arti negatifnya, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa gerakan memberikan jari tengah tersebut bisa mengurangi rasa sakit. Hal ini diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Kalamazoo University di Michigan, Amerika Serikat.

Melansir The Sun, Rabu (5/10/2022), hasil penelitian menemukan bahwa gerakan memberi jari tengah itu mampu mengurangi ketidaknyamanan dan rasa sakit sekitar sepersepuluh pada diri manusia. Peneliti juga mengonfirmasi, gerakan memberikan jari V juga dapat membantu dan memiliki efek yang sama.

“Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan gerakan tabu, ternyata memiliki efek penurun rasa sakit yang serupa dengan yang dihasilkan oleh kata tabu," ujar Profesor Autumn Hostetter, sang peneliti. 

Penelitian digelar dengan cara menginstruksikan peserta penelitian yang terlibat untuk memasukkan satu tangan mereka ke dalam air es. Sebagian peserta berulang kali membuat gerakan yang tidak menyinggung (gerakan biasa saja) dengan tangan lainnya dan sebagian lainnya melakukan isyarat dengan jari tengah sambil berteriak f**k atau datar.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok individu yang melakukan isyarat kasar dengan jari tengah mampu menahan rasa sakit rata - rata selama 125 detik. Durasi yang disebut tim peneliti, 12 kali lebih lama daripada kelompok peserta yang tidak melakukan gerakan kasar dan kelompok yang datar.

Disebutkan lebih lanjut, peneliti menjelaskan bahwa memberikan jari telunjuk bisa membantu mengalahkan rasa sakit karena otak kita secara tidak sadar berpikir f**k (melakukan hubungan seks) saat melakukannya.

Hal inilah yang disebut, kemungkinan membuat orang jadi lebih percaya diri. Rasa percaya diri inilah yang akhirnya membantu untuk mengabaikan rasa ketidaknyamanan dan rasa sakit.

 BACA JUGA:Indonesia Akhirnya Mulai Produksi Vaksin Covid-19 mRNA dalam Negeri

BACA JUGA:BPOM Angkat Suara Usai Diserang Netizen soal Teh Kekinian yang Sangat Manis

1
2