Share

Korban Selamat Tragedi Kanjuruhan Lihat Kematian Secara Langsung, Apa Dampak Psikologisnya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 03 Oktober 2022 10:15 WIB
$detail['images_title']
Tragedi Stadion Kanjuruhan, (Foto: Avirista M)

KERICUHAN berujung tragedi yang terjadi usai laga pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu 1 Oktober lalu, masih menjadi topik pemberitaan dan buah bibir masyarakat saat ini.

Dilaporkan setidaknya, 127 orang jadi korban tewas dalam insiden tragedi dunia sepakbola Indonesia yang bahkan menarik perhatian dunia internasional ini.

Melalui linimasa sosial media, para penonton yang menjadi korban selamat dari insiden ini menjelaskan bahwa banyak penonton pertandingan yang kehabisan oksigen akibat gas air mata atau terhimpit penonton lain saat ingin menyelamatkan diri. Tak sedikit korban anak-anak dan perempuan dalam musibah ini.

Bahkan salah satu striker dari tim Arema FC , Abel Camara mengaku melihat langsung banyak korban tewas, setidaknya 7 orang yang meninggal di depan mata kepalanya sendiri, setelah insiden penembakan gas air mata terjadi.

Selain Abel, tentu masih banyak lagi korban selamat yang melihat korban meninggal dunia melihat langsung kematian di depan mata di insiden ini. Kondisi psikologis para korban selamat yang menyaksikan kematian langsung di depan mata ini, juga harus diperhatikan.

Menurut dr. John Mayer, Psikolog Klinis di Doctor on Demand yang terjadi pada otak ketika melihat kematian di depan mata memicu naluri bertahan hidup, namun setelahnya perlu pemulihan serius untuk berdamai dengan memori tersebut.

"Saat melihat bencana, termasuk kematian di depan mata, memori itu masuk ke alam bawah sadar yang merangsang amigdala (bagian di otak yang bertanggung jawab atas emosi, taktik bertahan hidup, dan memori)," ujarnya, dikutip dalam NBC News, Senin (3/10/2022).

"Amigdala kemudian mengirimkan sinyal ke daerah korteks frontal yang terlibat dalam menganalisis dan menafsirkan data (termasuk memori buruk). Selanjutnya otak mengevaluasi apakah data tersebut merupakan ancaman atau tidak, sehingga penilaian terlibat. Pada akhirnya, respons 'lawan atau lari' dibangkitkan," tambahnya.

Setelah itu, beberapa dari korban selamat atau saksi kecelakaan biasanya memerlukan 'pelampiasan' emosi yang begitu besar. Salah satunya, media sosial yang disebut sebagai salah satu tempatnya. Ini diperlukan sebagai mekanisme pencegahan, agar kejadian serupa dapat dihindari atau menjadi bukti suatu peristiwa bisa terjadi.

"Menyaksikan kematian atau bencana di depan mata, memberi kesempatan untuk menghadapi ketakutan akan kematian, rasa sakit, putus asa, degradasi, dan pemusnahan sambil tetap merasakan tingkat keamanan tertentu," kata Psikiater dr. David Henderson

 BACA JUGA:Bahagia Belum Tentu Tak Alami Penyakit Mental Loh, Kenali Dulu 3 Indikatornya

BACA JUGA:Orang dengan Periodontitis Berisiko Lebih Tinggi Terkena Penyakit Kardiovaskular

Sementara itu, dilanjutkan dr. Mayer, menyaksikan bencana di depan mata dapat membawa manfaat secara emosi bagi korban selamat.

"Melihat bencana merangsang empati kita dan manusia memang diprogram menjadi makhluk berempati, artinya ini adalah kondisi psikososial utama yang membuat kita menjadi manusia sosial," katanya.

Tapi, pada beberapa kondisi empati yang timbul bisa berdampak sangat buruk bagi manusia itu sendiri terlebih jika orang tersebut mengenal korban bencana secara pribadi.

"Reaksi depresi adalah dampak paling umum," ungkap Psikiater dr. Stephen Rosenberg.

Dari pembahasan ini, para ahli memperingatkan potensi alami post-traumatic stress disorder atau PTSD bagi korban selamat maupun keluarga yang ditinggalkan. Makanya, penting bagi korban selamat atau keluarga korban mendapat pendampingan tenaga profesional untuk bisa melalui musibah.

PTSD dapat terjadi ketika seseorang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan pada peristiwa yang mengerikan. Kematian tragis memperbesar kemungkinan seseorang alami PTSD.

"Kematian tak terduga dikaitkan secara konsisten dengan peningkatan kemungkinan timbulnya PTSD baru, gangguan panik, dan episode depresi di semua tahapan perjalanan hidup," ungkap studi yang dilakukan Keyes pada 2014, dikutip dari laman Center for Anxiety Disorders.

 

1
3