Share

2 Terapi Pengobatan untuk Atasi PTSD akibat Menghadapi Kematian Mendadak

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 04 Oktober 2022 08:45 WIB
$detail['images_title']
keluarga korban kericuhan di Stadion Kanjuruhan, (Foto: Robby Ridwan)

RATUSAN nyawa menjadi korban dari kejadian kerusuhan pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Kesedihan dan kehilangan luar biasa tengah dirasakan keluarga dari ratusan korban jiwa tersebut. Kematian mendadak dan tragis seperti ini, rentan memicu terjadinya post-traumatic stress disorder (PTSD) bagi keluarga korban yang ditinggalkan.

"Kematian tak terduga dikaitkan secara konsisten dengan peningkatan kemungkinan timbulnya PTSD baru, gangguan panik, dan episode depresi di semua tahapan perjalanan hidup," ungkap studi yang dilakukan Keyes pada 2014, dikutip dari laman Center for Anxiety Disorders.

Lantas, apakah ada cara untuk mengobati PTSD akibat kematian mendadak? Ada beberapa terapi pengobatan yang efektif untuk atasi PTSD setelah kematian mendadak atau peristiwa traumatis dari orang tercinta atau Anda sendiri yang mengalaminya.

Terapi yang disarankan termasuk Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Pada beberapa kasus, terkadang obat-obatan digunakan bersamaan dengan terapi. Berikut paparannya, sebagaimana dilansir dari Center for Anxiety Disorders, Selasa (4/10/2022).

1. CBT: Perasaan bersalah itu menuntun Anda seolah-olah Anda bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Pikiran negatif ini dapat menyebabkan seseorang menghindari hal-hal yang biasanya dinikmati atau membuat dirinya lebih khawatir, secara obsesif bahwa dirinya akan kehilangan orang lain dengan cara yang sama. Nah, terapi CBT mengajarkan untuk menyadari keyakinan dan pemikiran tentang situasi tersebut. Setelah mengidentifikasinya, itu memberi diri Anda keterampilan untuk melihat apakah ada fakta yang mendukung pemikiran tersebut dan bagaimana melepaskannya jika tidak ada.

"Singkatnya, CBT membantu Anda mengelola keyakinan destruktif Anda sehingga Anda dapat menggantinya dengan pandangan yang akurat," terang laporan tersebut.

2. EMDR: Terapi EMDR membantu seseorang memproses trauma pada tingkat emosional. EMDR telah terbukti membantu penderita PTSD sembuh lebih cepat daripada terapi tradisional. Faktanya, satu penelitian yang didanai oleh Kaiser Permanente HMO menemukan bahwa 100 persen korban trauma tunggal dan 77 persen korban trauma ganda tidak lagi didiagnosis PTSD setelah enam sesi (per sesi 50 menit).

"Pada PTSD, pikiran dan ingatan traumatis bekerja melawan proses penyembuhan otak. Nah, kolas balik, mimpi buruk, dan emosi yang mengganggu berputar terus di otak. Terapi EMDR dapat memutus siklus tersebut," bunyi keterangan dalam laporan yang sama. EMDR dilakukan dengan menggunakan rangsangan bilateral untuk memanfaatkan mekanisme biologis yang digunakan otak selama tidur (REM). Teorinya, dengan menggunakan REM sambil mengingat pikiran atau ingatan yang mengganggu dari trauma membantu otak memprosesnya secara alami, memungkinkan pikiran untuk sembuh.

 BACA JUGA:Terapi Nebulizer Bermanfaat untuk Anak Batuk Pilek, Ini Kata Dokter Anak!

BACA JUGA:Mengenal Terapi Holistik Seperti yang Diajarkan Mendiang Reza Gunawan, Apa Manfaatnya?

1
2