Share

Peneliti: Bayi Lahir Kurang dari Berat Rata-rata, Berpeluang Alami Masalah Kesehatan Mental

Astri Lawrensia, Jurnalis · Selasa 04 Oktober 2022 07:00 WIB
$detail['images_title']
ilustrasi bayi baru lahir, (Foto: Freepik)

MOMEN kelahiran bayi merupakan momen yang dinanti - nantikan bagi setiap calon orang tua. Namun di saat yang bersamaan, kebahagiaan ini juga harus dibarengi dengan perhatian khusus terkait kondisi kesehatan sang bayi.

Salah satu yang krusial adalah berat badan saat bayi itu lahir. Tahukah Anda, dari berat badan saja ternyata sudah bisa terlihat garis besar risiko dari masalah kesehatan yang bisa dialami sang bayi di masa depan, termasuk kesehatan mental.

Hal ini diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Royal College of Surgeons di Irlandia (RCSI). Tim peneliti mendapati lewat penelitian ini, berat lahir bayi ternyata juga bisa prediksi risiko masalah kesehatan bayi yang bisa terjadi di kemudian hari alias menjadi indikator utama masalah kesehatan anak-anak di masa depan, mengutip The Sun, Selasa (4/10/2022).

Penelitian yang dipublikasikan dalam European Child & Adolescent Psychiatry dan didanai oleh pemerintah Irlandia tersebut, digelar dengan mengamati perkembangan lebih dari 8.000 anak.

Disebutkan lebih lanjut, hasil peneliti mengungkapkan bahwa untuk setiap kilogram bayi di bawah berat lahir rata-rata (3,5 kilogram) maka semakin besar kemungkinan bayi tersebut memiliki masalah kesehatan mental. Para peneliti menemukan masalah terkait berat lahir bayi ini biasanya akan terlihat pada anak-anak dan remaja antara usia 9 tahun dan 17 tahun.

“Kami telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur itu dikaitkan dengan risiko penyakit mental yang lebih tinggi pada anak. Apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah, bahwa penyimpangan kecil dari berat lahir biasa mungkin juga relevan,” ucap Profesor Mary Cannon, peneliti dalam studi di atas.

Selain faktor berat lahir bayi, faktor - faktor lain juga turut diperhatikan seperti jenis kelamin, riwayat penyakit mental orangtua dan lain sebagainya.

“Hubungan antara berat lahir dan kesehatan mental anak ini tetap ada, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi berat lahir dan kesehatan mental, seperti jenis kelamin, faktor sosial ekonomi, dan riwayat penyakit mental orang tua, ” tambah peneliti lain, Niamh Dooley.

Para peneliti mengatakan bahwa ADHD, depresi, kecemasan, masalah sosial merupakan masalah psikologis yang lebih mungkin terjadi pada bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang.

Setiap kilogram berat badan bayi yang lahir di bawah rata-rata dikaitkan dengan dua persen peningkatan risiko ADHD. ADHD sendiri merupakan gangguan umum yang sering didiagnosis pada masa kanak-kanak dan cenderung memicu gejala kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

Berat badan lahir yang kurang juga dikaitkan dengan masalah emosional termasuk kecemasan dan depresi juga masalah sosial terutama pada anak usia remaja akhir.

"Pengaruh berat lahir pada kesehatan mental di kemudian hari kemungkinan kecil, tetapi mungkin berinteraksi dengan risiko lain seperti genetika dan stres masa kanak-kanak, dan memiliki implikasi untuk memahami asal-usul kesehatan mental dan kesehatan yang buruk," tutup tim peneliti.

 BACA JUGA:Peneliti: Orang yang Terinfeksi Covid-19 Berat atau Ringan, Punya Risiko Tinggi Alami Masalah Jantung

BACA JUGA:Hasil Penelitian: Minum Segelas Susu Sehari Bantu Kurangi 10 Persen Risiko Diabetes

1
3