Share

Mengenal Panic Crowds, Perasaan yang Timbul Akibat Terjebak di Kerusuhan

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Senin 03 Oktober 2022 08:25 WIB
$detail['images_title']
suasana ricuh di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema vs Persebaya, (Foto: Dok. MPI)

LAGA sepak bola Arema FC vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022-2023 pada Sabtu 1 Oktober 2022 malam, berakhir menjadi tragedi besar dan mengakibatkan ratusan korban jiwa.

Aksi kerusuhan yang melibatkan suporter Arema dengan suporter Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, tersebut menelan setidaknya nyawa  sampai 127 orang.

Dalam situasi rusuh dan ricuh dengan kerumunan besar seperti di Stadion Kanjuruhan tersebut. Banyak orang biasanya akan mengalami kepanikan. Dalam dunia medis, kepanikan yang terjadi saat kericuhan dalam sebuah kerumunan tersebut, dikenal dengan istilah panic crowds.

Dikutip dari Alodokter, Senin (3/10/2022) panic crowds merupakan kerumunan yang sifatnya tegang, ketika setiap orang ingin menyelamatkan diri dari suatu bahaya yang datang mengancam secara tiba-tiba.

Pada saat seseorang menghadapi hal yang mengancam, tubuh secara otomatis mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman tersebut. Caranya melarikan diri dari sumber ancaman atau berkelahi melawan sumber ancaman.

Follow Berita Okezone di Google News

Respon tubuh seperti ini, adalah respon alamiah manusia yang terjadi dengan cepat dan otomatis untuk memungkinkan diri kita untuk melindungi diri sendiri.

Mengingat tubuh mempunyai mekanisme yang unik untuk melindungi dan menyelamatkan diri, yang berupa fight- flight – freeze response (melawan – melarikan diri – mematung) di saat seseorang menghadapi kondisi yang mengancam keselamatan kita, yang membuat kita takut atau cemas.

“Pada saat seseorang menyadari adanya ancaman, amygdala (bagian otak yang memproses emosi, termasuk rasa takut) mengirimkan signal ke hipotalamus," terang dokter Tirtawati Wijaya, pada sesi tanya jawab di laman Alodokter.

"Signal ke hipotalamus yang kemudian menstimulasi sistem syaraf autonom (SSA),” lanjutnya.

SSA yang terdiri dari sistem syaraf simpatik yang mengendalikan respon fight or flight, dan parasimpatik yang mengendalikan respon freeze. Reaksi seseorang saat menghadapi ancaman tergantung sistem mana yang lebih dominan saat itu.

1
2