Share

Lesti Kejora Alami KDRT, Ini Kata Psikolog Agar Bisa Segera Pulih!

Kiki Oktaliani, Jurnalis · Minggu 02 Oktober 2022 13:00 WIB
$detail['images_title']
Lesti Kejora (foto: Instagram)

WARGANET hingga kini masih digemparkan kasus KDRT yang dialami pedangdut, Lesti Kejora yang dilakukan oleh sang suami sendiri. Dalam Laporan Polisi (LP) yang dibuat oleh Lesti Kejora dan ditanda tangani oleh Lesti dan Kanit III SPKT Polres Metro Jaya Selatan, AKP Sumardi, Rizky dilaporkan atas tindak KDRT.

Sebagai seorang korban, Lesti tentu merasakan trauma atas kejadian yang dialaminya ini. Menurut Meity Arianty, STP., M.Psi dalam kacamat seorang psikolog untuk mengatasi trauma yang dirasakan korban KDRT atau kekerasan, salah satu hal yang dapat di lakukan adalah, “Jika mengalaminya sebaiknya tidak mengambil keputusan terburu-buru, focus pada penyembuhan diri dan usahakan diri anda tenang untuk berpikir jernih.” Ujarnya. 

 berpikir jernih

“Apapun keputusan nantinya sebaiknya lakukan buat diri anda, apa yg terbaik buat diri anda, gak usah mikirin yg lain, focus ke diri anda saja karena anda yang akan menjalaninya. Cari bantuan jika anda merasa tidak sanggup sendirian.” Tandas Meity pada 30/9/2022.

Lalu apa saja dampak psikologis bagi korban, akibat mengalami KDRT?

Menurut penelitian, kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena perebutan kekuasaan, uang, atau kesenangan. Perilaku seperti binatang berada di rumah kemudian menyerang pasangan. Untuk itu para korban KDRT harus berani bersuara agar keluar dari hubungan tidak sehat ini. Berikut beberapa pengaruh psikologis akibat KDRT.

1. Bekas luka

Korban kekerasan dalam rumah tangga akan merasa sulit melupakan bekas luka bahkan setelah bertahun-tahun. Ya, setelah berulang kali mengalami pelecehan, kenangan negatif dapat memengaruhi ketenangan seseorang selama bertahun-tahun. Ini merupakan hal yang menyedihkan.

2. Trauma

Orang yang dikasari pasangan mengalami trauma dalam hidupnya. Ada banyak kasus di mana korban kekerasan dalam rumah tangga menjadi tertekan dan trauma setelah menghadapi pelecehan dalam hubungan mereka.

3. Rasa sakit 

Dalam kasus di mana kekerasan fisik terjadi, korban mungkin mengalami rasa sakit dan penderitaan. Dalam cedera fisik yang diderita, jiwa terdalamlah yang paling merasakan sakit. Ini merupakan alasan mengapa penting mengatakan tidak untuk kekerasan dalam rumah tangga.

  

4. Paranoid 

Sebuah studi baru tentang paranoid mengatakan bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga umumnya cenderung menjadi paranoid. Mereka mungkin tidak pernah bisa memercayai hubungan dengan manusia lagi. Ini adalah salah satu fakta kekerasan dalam rumah tangga, demikian dilansir Boldsky.

1
2